Data Artikel

Pesan Berhentinya Perang di Bandung Connex Art Month 2018

Oleh Jajang R Kawentar

‘Studioku di Galerimu’ itulah tajuk Proyek Seni Iwan Ismael di Galeri Depan, Rumah Proses, jalan Mutumanikam 47. Buahbatu, Bandung yang dibuka pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 pukul 19.30 WIB dan berlangsung sampai tanggal 9 September 2018. Menawarkan kehidupan pigur masyarakat urban jaman sekarang di negeri ini, serta tokoh fenomenal dengan teknik stencil. Selain karya stencil, menghasirkan Tungku Bromvit serta perlengkapan memasak kopi yang selalu dibawa ketika bekerja di luar kota dan menandai dibeberapa titik dinding kota itu.

Proyek seni Iwan Ismael memberikan pesan bahwa perang telah berakhir. Pesan itu dititipkannya melalui karya yang mengambil pigur presiden Korea Utara dan Korea Selatan yang notabene berbeda pandangan politik dan ideologi sepakat berdamai, bersalaman mengakhiri perang. Karya setinggi 5 meter, lebar 3 meter diposisikan sebagai pintu gerbang. Mengisyaratkan kita memasuki wilayah perdamaian: tanda cinta kasih antar sesama bersemi, rasa kasih sayang dimuliakan.

Moment bersalaman pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Korea Selatan, Moon Jae-in pada pertemuan Konsprensi Tingkat Tinggi (KTT) setelah mereka bermusuhan 65 tahun, resmi menyatakan berakhirnya perang dan era baru perdamaian dimulai. Moment ini seolah meruntuhkan kekuasaan yang arogan, dan memberi pengertian bahwa menciptakan perdamaian untuk mencapai kesejahteraan, serta keutuhan bangsa tidak perlu dengan kekerasan apalagi senjata.

Sikap yang ditunjukkan oleh kedua pemimpin Korea itu, tentunya dapat menjadi tauladan bagi para pemimpin rumah tangga yang menjadi pemimpin pemerintahan, guru, pemimpin organisasi dan pemimpin masyarakat. Menciptakan perdamaian itu tidak mudah kalau tidak ada keinginan mewujudkannya.

Kita juga diajak melihat berbagai peran dan pigur dari bangsa sendiri dalam realitas hidup seperti diwakilkan pada puluhan pigur masyarakat urban yang dipertemuakan dalam satu ruang pamer. Ekspresi dan karakternya menampakan heroisme perjuangan mempertahankan dan mempertaruhkan hidup berbangsa bernegara, serta bermasyarakat. Begitupun kopi serta perlengkapan memasaknya sekaligus penyeduhnya yang turut dihadirkan, menjadi media penghantar mencairkan suasana merenggangkan ketegangan, dan siapapun menginginkan damai.

 

Proyek Seni Jaringan

Kejelian Rudi ST Darma pemilik Rumah Proses mengkoneksikan Iwan Ismael dengan Bandung Connex Art Mont Juli-Agustus 2018 sehingga beberapa kota dan orang-orang yang terlibat proyek seni ini seperti tombol listrik, ketika tombol dinyalakan maka semua jaringannya terhubung.

Lebih dari 50 stencil karya Iwan Ismael yang lengket di dinding-dinding dibeberapa kota Indonesia sebut saja Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Tegal, Bali, dipertemukan dalam sebuah ruang Galeri Depan, Rumah Proses dengan berbagai ukuran. Dirancang seperti ruang perdamaian dengan kopi pemantik dialog, itulah kondisi studio Iwan di galeri Rudi.

Dalam mempresentasikan karyanya, Iwan menyemprot ulang karya stencilnya di sekeliling dinding Galeri dengan mengunakan warna hitam dan abu-abu. Dia memperlakukan karyanya sama seperti ketika menandai dinding dibeberapa titik kota, menjadikan dinding galeri banyak bercerita mengenai kehadiran pigur masyarakat urban dan dinding itu menjadi sangat berharga. Sebagaian karya ditempatkan disepuluh neon box ukuran 40cm x 60cm x 5cm.

Karya-karya yang melekat di dinding galeri mengkoneksikan antar dinding-dinding kota yang ditandai karya stencilnya. Sehingga proyek seni Iwan tidak hanya berusaha mengkoneksikan kesenian, dan seniman yang ada di Bandung, namun dengan pameran ini Iwan berhasil mengkoneksikan beberapa kota di negeri ini melalui karya stencilnya dan orang-orang yang terlibat.

Tidak ada penempatan lighting secara khusus pada ruang pamer tersebut, cukup dengan sepuluh neon box yang sekaligus bagian dari karyanya. Penonton dapat merasakan suasana damai dari teriakan-teriakan keresahan pigur-pigur karya stencil yang berperan mewakili profesinya di masyarakat.

 

Figur Iwan ismael

Iwan ismael kelahiran Medan Juni 1966 kali pertama pameran tunggal karya stencil, dari ratusan karya yang telah dibuatnya. Dalam kurun waktu empat tahun secara intens mengerjakan stencilnya. Di sela-sela waktu kerja ia mengumpulkan ampas kopi dan mengkereasikan tungku yang berbahan bakar briket dari ampas kopi.
Sementara pigur-pigur yang menjadi objek stencil memiliki hubungan secara emosional, tidak serta merta objek yang dijadikan stencil menjadi karya yang bisa dipresentasikan. Pigur-pigur itu pernah bertemu dan berdialog. Mereka masyarakat biasa bukan orang-orang terkenal. Seperti tukang las, tukang sampah, anak-anak kampung, polisi, tukang parkir, seniman, dan ada beberapa pigur tokoh yang monumental serta pigur idola masyarakat. Namun yang tidak kalah menariknya adalah riwayat dari pigur-pigurnya dan proses pertemuannya hingga menjadi karya stencil, itu hanya milik senimannya.

Peristiwa yang dialami pigur-pigur dalam karya stencil dengan proses memasak kopi, dialog antar pengunjung pameran dan penyeduh kopi seperti sebuah drama yang selalu berubah topik pembicaraan, berbagai ekspresi, polemik dan klimaksnya. Namun semua berada dalam koridor perdamaian yang sejuk, demokratis dan menyenangkan. Seperti menikmati pahitnya kopi dan manisnya gula.

Melihat pigur Najwa Sihab stencilan yang disemprot warna abu-abu di dinding dipojok ruang seperti sedang mewawancarai semua pigur yang hadir dan mendengarkan pembicaraan para pengunjung pameran. ‘Studioku di Galerimu’ adalah ruang belajar bagaimana berbagai masalah sosial diselesaikan dengan azas kerukunan dan gotong royong mencapai mufakat, didialogkan dalam sebuah forum seperti cita-cita para pendiri negeri ini.
Semua patut bicara berbagai masalahnya, menghargainya, mencarikan solusinya, menghantarkan pada perdamaian dan kesejahteraan bersama. Begitulah yang selayaknya dibangun cita-cita luhur bersama dalam perdamaian abadi.
Tasikmalaya, 1 September 2018

Jajang R Kawentar penulis Art Critique Forum Yogyakarta

UNCH

“unch: The entire crotch area of a human being, with emphasis on the lower part of the genitalia. Meant to refer to the entire experience of the crotch and its contents”[1].

 

Coba saja ketik kata “unch” di mesin pencari seperti google maka yang ditemukan adalah tulisan dan berita yang membahas tentang kesadaran penggunaan kata ini dalam kaidah yang tidak tepat di Indonesia. Entah dari mana bahasa ini muncul, namun dalam urban dictionary kata ini adalah salah satu kata Slang (Bahasa Gaul) dalam bahasa inggris yang di adopsi dengan “lugu” di Indonesia.

Merujuk pada top definition dari urban dictionary di atas, unch adalah kata yang merujuk kepada bagian intim dari manusia, atau dalam lingkup yang lebih luas, unch adalah pengungkapan ekspresi jika bagian intim seseorang di sentuh. Namun di Indonesia, kata ini mengalami akulturasi makna yang cukup ekstrem, dimana “unch” di umbar dalam ranah publik seperti media sosial, aplikasi daring, dan bahkan dalam percakapan langsung sebagai kata yang menggambarkan sesuatu yang lucu, imut, menggemaskan, atau ungkapan kekaguman akan sesuatu. Amati kata “unch” dalam komunikasi di facebook , twitter dan Instagram maka kita akan menemukan penempatan kata ini dalam variasi yang janggal.

Perubahan janggal dalam akulturasi bahasa slang di Indonesia mungkin menganalogikan bagaimana pengaruh seni dari barat di bawa masuk ke Indonesia, yang dalam istilah barat saat sekarang disebut sebagai zaman kontemporer. Dalam dunia barat, sebuah paradigma menarik yang dijabarkan oleh sosiolog  Nathalie Heinich tentang seni modern dan seni kontemporer yang menurutnya saling tumpang tindih. Seni modern lebih mengarah ke konvensi dari representasi sedangkan seni kontemporer lebih ke arah gagasan tentang karya seni itu sendiri[2].  Pengamatan Nathalie ini secara terbuka mengarahkan seni kontemporer bukan tentang keindahan semata, melainkan seni sebagai cara berpikir dan upaya-upaya untuk mengungkapkan gagasan kepada apresian. Titik awal seni kontemporer di dunia dapat di tandai dengan karya Marcel Duchamp yang berjudul “Fountain” yang di buat pada tahun 1917[3].

Sementara di Indonesia, Generasi Seni Rupa Baru (GSRB) dianggap sebagai perintis seni rupa Kontemporer di Indonesia yang baru dimulai pada tahun 1975. Menurut FX Harsono , yang menunjukkan perbedaan GSRB dengan seni rupa sebelumnya adalah konsep kesenian dan cara berkarya yang berbeda dengan seni rupa sebelumnya. Cara berkarya yang bersifat multimedia, penolakan terhadap universalisme, dan berkeinginan untuk menentukan arah dan tata nilai perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia secara sendiri, tidak menjadi bagian dari seni rupa modern yang berkiblat pada Eropa dan Amerika, mengakibatkan perubahan nilai estetis[4].

Dalam konsep berkesenian yang diusung oleh GSRB ini, kita seolah dibawa kembali dalam semangat nasionalis PERSAGI dan SIM yang juga mengusung konsep kebaruan dalam kesenian serta pemisahan seni rupa Indonesia dan Barat. Secara dangkal, konsep yang ditawarkan seniman beda zaman ini tak lain adalah repetisi-repetisi pengaruh barat terhadap seni rupa Indonesia yang dipaksakan ke-orisinalitas-an nya. Aminudin TH Siregar bahkan mengatakan,  kebesaran kisah ini (GSRB) cenderung dikonstruksi oleh para pelakunya saja, alih-alih dihasilkan dari sebuah penelitian serius ataupun suatu analisis diskursif dari pihak lain. Belakangan, para eksponen GSRB bahkan cenderung menganalisis peristiwa 35 tahun yang lalu itu dengan “polesan” di sana-sini berupa analisis-analisis tambahan yang kesadarannya bertaut jauh dari peristiwanya[5].

Pengategorian zaman seperti modern dan kontemporer dalam seni rupa kita jelas disadur dari seni rupa barat yang lebih dulu menggunakan istilah ini dalam kesenian mereka. pemisahannya adalah hal yang aneh saat definisi zaman ini diartikan sebagai bentuk perlawanan terhadap pengaruh kesenian “barat”. Lalu, kenapa seni rupa Indonesia tidak dikategorikan dalam zamannya sendiri secara khusus seperti ; seni rupa kolonial, post kolonial, reformasi dan post reformasi, misalnya. Rintisan wacana kontemporer semenjak tahun 1975 itu tetap saja dipengaruhi oleh seni rupa barat terhadap seni rupa di Indonesia, bahkan karya-karya yang dibuat oleh para “penggagas-nya” sekalipun; instalasi, performance art, happening art, seni lingkungan, benda temuan (found objects), dan sebagainya.

 

Gunhadi, Tone in live, 150X180 cm, Mixed media oncanvas, 2017

 

Marandai yang di pajang

 

Kata marandai berasal dari Minangkabau yang bermakna mempegilirkan, menukar. Dalam pameran ini sejenak kita menelaah bahwa mempegilirkan dan menukar tidak sebatas menganti sesuatu dengan sesuatu lainnya, lebih dari itu adalah sebuah upaya untuk meregenerasi, memperbaiki dan merubah sesuatu dari satu sisi ke sisi lainnya. Upaya seluruh seniman di Indonesia dalam marandai seni sampai se rumit ini tentu tidak hanya sekadar klaim dari sekelompok orang yang mengaku perintis itu, lebih-lebih pengaruh kolonial membuat masyarakat Indonesia menjadi java sentris sehingga apa yang terjadi di jawa, itu yang menjadi penanda.

Luput dari hal tersebut mungkin kita lupa terhadap gerakan seni di daerah lainnya yang juga membangun seni rupa Indonesia, salah satunya adalah SEMI (Seniman Muda Indonesia). SEMI adalah nama sebuah sanggar seni, khususnya seni rupa yang berdiri di Bukittinggi pada sekitar 1947 dan sempat diselingi kevakuman selama agresi Belanda pertama dan kedua, PDRI, dan PRRI, dan kemudian aktif kembali setelah kondisi aman. Komunitas ini didirikan bersamaan masanya dengan gerakan Seniman Muda Indonesia (SIM)[6]. Faktanya, pembacaan terhadap pergerakan seniman di daerah sulit muncul sebagai pembacaan seni secara nasional. Gerakan seni “perjuangan” pada waktu itu (mungkin) terjadi disetiap daerah, tapi tidak semua tercatat dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Perkembangan seni rupa hari ini pelan-pelan tidak lagi didasari oleh perjuangan-perjuangan identitas seni yang diusung generasi sebelumnya. Hal ini tampak dari Komunitas Seni Sakato khusus nya para seniman muda yang sudah jarang melukis “rumah gadang” atau tanda kedaerahan lainnya. Seni rupa melebur menjadi sangat variatif, pembacaan terhadap seniman tidak bisa lagi dinilai sebatas kultur dan warisan alam tempat mereka lahir.

Hal ini mungkin tidak lepas dari penemuan teknologi informasi (internet) yang telah merubah bentuk masyarakat manusia, dari masyarakat dunia lokal menjadi masyarakat dunia global, sebuah dunia yang sangat transparan sehingga dunia juga dijuluki the big village. Masyarakat dunia global ini memungkinkan komunitas manusia menghasilkan budaya bersama, produk industri bersama, pasar bersama, pertahanan militer bersama, mata uang bersama, dan peperangan global disemua lini[7], Namun Akulturasi yang terjadi dari dunia yang lebih transparan mungkin telah meruntuhkan cara pandang teritorial terhadap seni itu sendiri. Pengaruh seni tidak lagi datang dari dunia barat, melainkan dari dunia cyber.

Seperti kata “unch” yang dirangkai dalam kalimat berbahasa Indonesia, seni rupa hari ini pun sekiranya begitu, pun dengan pameran ini. saat seni rupa kontemporer disadur dari bahasa inggris, belum tentu penerapan dan penggunaannya sama dengan tempat asal kata itu diciptakan. Seperti seni kontemporer di barat yang dimaknai sebagai penyampai gagasan, di Indonesia seni kontemporer lebih condong ke arah tindakan dan pengaburan konvensi, jarang sekali seniman yang muncul berdasarkan gagasan pada karyanya, atau gagasan dari para seniman memang tidak didukung oleh struktur seni rupa yang (mungkin) kurang terbentuk. Keunikan seni rupa kita telah membawa arus kreatif tersendiri dari kekaryaan, pembacaan, hingga seniman.

Maka dari itu, memajang yang dirandai dalam pameran ini adalah pembacaan tentang bagaimana seni dibangun atas kesadaran global, bukan lagi nasionalis, teritori, ataupun identitas. Segelintir karya pada ruangan ini adalah bentuk evolusi seni rupa dari apa yang sekadar tampak kemudian menjadi apa yang dipikirkan, dari yang hadir melalui tindakan ataupun muncul sebagai gagasan.

 

***

 

 

Riski Januar

 

[1] https://www.urbandictionary.com/define.php?term=unch . di akses pada 27 April 2018 pukul 21.26 WIB

[2]  Heinich, Nathalie, Ed. Gallimard, Le paradigme de l’art contemporain : Structures d’une révolution artistique , 2014

[3]  Nathalie Heinich lecture “Contemporary art: an artistic revolution ? at ‘Agora des savoirs’ 21th edition, 6 May 2015.

[4] Fx Harsono, Catatan Seni Rupa Kontemporer 1992. Awal Kebangkitan Kembali Seni Rupa Kontemporer, Koran Kompas, 28 Desember 1992, p 12

[5] Aminudin TH Siregar, “Seni Rupa Kontemporer Indonesia” Dirintis GSRB?, Arsip IVAA : archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3879, 2010

[6] Sudarmoko, SEMI dan Gerakan Seni Rupa di Sumatera Barat, Hibah Penelitian Seni Rupa yang dilaksanakan oleh Indonesian Visual art Archive dengan nomor kontrak 04.07.010/IVAA/HIVOS-Hibah/VII/2015

[7] Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Jakarta : Kencana, 2009, p. 163

BROMANCE : Hubungan Sesama Jenis

BROMANCE

oleh: Riski Januar

 

Menurut Urban Dictionary, bromance didefinisikan sebagai cinta dan afeksi atau sebuah perasaan yang rumit yang dirasakan oleh dua laki-laki hetero seksual. Lebih lanjut nya, istilah bromance ini digunakan sebagai kata yang menunjukkan persahabatan yang sangat erat antar sesama jenis dan tidak menyangkut kedalam hubungan seksual (homo seksual).

Apa pentingnya mempersoalkan hubungan romance sesama jenis yang kerap diasosiasikan negatif dan bahkan (mungkin) cikal bakal lahirnya hubungan-hubungan sesama jenis yang lebih intim lagi (homo seksual). Namun hubungan Warhol dan Basquiat, Lucian Freud dan Francis Bacon, Van gogh dan Gaugin, ataupun Affandi, Sudjojono hingga Nashar adalah hubungan penting yang membentuk karya-karya mereka dikenal hingga saat ini. fenomena hubungan bromance khususnya bagi seniman adalah hubungan penting untuk melahirkan karya serta rivalitas untuk membangun kesenian itu sendiri. di Indonesia, hubungan ini kerap muncul dari aktivitas berkelompok atau pembentukan kelompok yang di-insiasi oleh hubungan bromance tersebut. Hal ini (mungkin) disebabkan oleh pembentukan kebudayaan pasca kolonial dimana kelompok-kelompok sosial/seni kerap dirancang secara kekeluargaan, hubungan kekeluargaan dalam kelompok ini, kerap menumbuhkan bromance antar sesama anggotanya.

Perkembangan seni Indonesia dibangun oleh hadirnya kelompok dan komunitas seni yang sama-sama membangun kesenian ke arah yang lebih baik, seperti ; Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang berdiri pada tahun 1937 mempelopori gerakan seni rupa modern Indonesia melalui S. Sudjojono2, ataupun Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada tahun 1975 yang kerap dianggap dan diperdebatkan sebagai kelompok perintis seni kontemporer di Indonesia. Munculnya wacana yang memberikan opsi kebaruan lahir dari eksisnya kelompok-kelompok seni yang selain berkegiatan “menggambar” juga “berpikir” tentang bagaimana seni yang lebih baik.

Namun fenomena seni hari ini, seni rupa seolah-olah mengalami fase krisis wacana. kelompok dan komunitas kritis dari seniman seolah dibungkam oleh munculnya art fair, dominasi gallery serta art market yang mulai menyetir karya-karya seniman ke arah yang seragam sesuai permintaan para “pelanggan” ruang-ruang tersebut. Hal ini menimbulkan banyaknya seniman yang tampil lalu hilang kembali, atau maraknya muncul alternative art space karbitan berkedok hotel, kafe, dan restoran yang tiba-tiba mengadakan pameran seni lalu hilang seketika. Kelompok dan komunitas seniman yang dulu dikenal kritis, liar dan pemberontak tiba-tiba tidak terdengar lagi, seolah-olah semua hanyut dalam seremonial hari raya seni rupa sekali setahun itu.

Agung Kurniawan, melalui artikelnya yang berjudul “Wacana Bangkrut Kurator Gendut” menuliskan bahwa pameran besar saat ini hanya mengkopi skala ruang, bukan ideologi nya. Kita banyak menemukan pameran dengan mimpi merangkum, mencatat dan menasbihkan. Tapi mimpi tinggallah mimpi, kenyataannya pameran itu semua bermuara tentang bagaimana menjual dan menjual, untuk itu segala cara dilakukan salah satunya adalah menggunakan judul gigantic dan megah “Pameran Besar Seni Rupa” atau “Manifesto”. Dengan judul hiperbolis itu pembeli diharapkan percaya bahwa seniman yang sedang berpameran adalah seniman terpilih dan berbakat besar tapi faktanya bisa sebaliknya. artikel yang ditulis pada tahun 2008 ini menunjukkan keadaan yang hampir sama dengan seni rupa hari ini, bahkan mungkin lebih ekstrem lagi dalam hal jual menjual.

Dalam hal kritik, kepenulisan, dan kurator seni rupa pun, kita tak ubahnya seolah melihat pengacara yang mati-matian membela klien nya dengan memberikan berbagai alasan untuk menyatakan bahwa karya si “A” bagus dan layak dikoleksi walaupun kadang hanya memindahkan tulisan dari satu pameran ke pameran yang lain melalui wacana mainstream tentang perupa yang mengumbar kehidupan pribadinya kedalam karyanya. Tahun 2008 menjadi awal kebangkrutan wacana seni rupa, ada ratusan pameran seni rupa tiap bulan tapi tak satu pun wacana baru yang dapat dielaborasi, hal ini sekiranya bertahan sampai sekarang.

Sementara majalah dan tabloid seni rupa di Indonesia jatuh dan tenggelam, susah untuk bangkit, adapun yang bertahan hari ini, pelan-pelan merubah konten isi dari yang dulu membahas lukisan indah lalu kini membahas kopi dan tempat liburan yang asyik.

Hal ini merajut ujung benang kusut tentang arah seni rupa kini yang krisis wacana. Apakah tidak ada lagi bromance yang lahir untuk memberikan sesuatu yang segar dari kelompok-kelompok seni rupa independen yang dulu menjadi fondasi eksisnya seni rupa di Indonesia melalui wacanawacana baru. Bromance : hubungan persahabatan sejenis, mungkin dalam pameran ini bisa kita sepakati bahwa “sejenis” yang di maksud adalah jenis kesenangan, profesi ataupun sekadar hobi untuk membuat karya seni.

Melalui pameran After Mooi Indie yang digagas oleh para perupa muda ini, mungkin kita dapat beristirahat sejenak dari kepentingan-kepentingan “aneh” terhadap seni rupa ke dalam karya seni yang tidak berlandaskan hal apapun selain kesenangan berkarya, upaya menyampaikan sesuatu dan keinginan untuk tampil. Pameran ini mungkin tidak menawarkan wacana yang baru, namun ketidakada-an wacana ini menjadi sebuah wacana tersendiri yang baru pula. Seperti hal nya memilih untuk tidak memilih, pameran ini tampil dengan lugu dan sederhana, diprakarsai dari hubunganhubungan bromance di dalam sebuah komunitas independen, tampil di antara hiruk pikuk hari raya
seni rupa yang mahal dan mewah.

 

Gedangan, Kamis 3 Mei 2018

Pengantar Kuratorial untuk Pameran  After Mooi Indie #2 yang diselenggarakan oleh FORMMISI ART PROJECT

What’s Else Could We Think About? Bon Apetite

Abdi Setiawan: What else could we think About? Bon Appetit

Oleh Jajang R Kawentar

What else could we think About? Boun Appetit’, Abdi Setiawan bercanda di Museum Oei Hong Djien (OHD) pada ulang tahun ke 20 Museum tersebut, Magelang, 20 Mei 2017. Seperti opera sabun yang menghadirkan dramatikal pada ruang makan. Saya gagal faham apakah karya patung yang terbuat dari kayu jati itu displaynya pada  ruang makan VIP terkini atau warung angkringan, tempat seniman nongkrong dengan property meja dan kursi klasik?

Apalagi yang kita pikirkan? Silahkan makan, begitu terjemaahan bebas dari judul karya perjamuan makan karya Abdi Setiawan. Sengaja atau kebetulan, adegan dan situasi ini merupakan drama satire. Semacam potret pertemuan tertutup para pengusaha, para pejabat, para penguasa, para pemimpin partai, para preman atau para konglomerat. Atau mereka yang tergabung semuanya itu. Pertemuan seperti ini sudah umum dalam pengambilan keputusan yang tidak umum.

Menurut saya kali ini Abdi Setiawan cukup signifikan pembaharuannya, dari humor yang kocak, selenge-an, urakan, seperti lonte, tante girang, masyarakat urban, kini menjurus humor yang formal dan menendang gunungan es. Mungkin dia telah menyelesaikan membaca buku Madilog (Matrialisme, Dialektika dan Logika) karya Tan Malaka moyangnya dia dari Minang, atau mendapat siraman rohani dan rohana mengenai strategi kekuasaan dan globalisasi ekonomi, sehingga ada sengatan berbeda dalam tema karyanya. Mungkin juga faktor usia yang semakin matang, dan condong perbaikan religiusitasnya.

Sepertinya karya ini mengungkapkan sebuah gagasan dimana peralihan objek yang akan digarap Abdi Setiawan ke depan. Dia mempersiapkan beberapa seri karyanya tentang Landscape. Dengan cara dia menghidangkan sajiannya berupa Landscape disebuah acara jamuan makan, seolah dia sedang menawarkan sebuah gagasan atau new taste yang layak dikonsumsi. Tentu ini bukan masakan Minang yang terkenal seperti rendang. Bisa jadi ini masakan sejenis rendang, yang selalu menjadi favorit dalam sebuah sajian makan. Apakah demikian yang dimaksudkan Abdi Setiawan?

Belum tentu, karena bisa saja karya ini menyampaikan gagasan kerakusan dan gawat daruratnya situasi dimana bumi ini dipijak. Bagaimana kekuasaan dan kekayaan alam hanya milik sebagian orang yang berada dalam lingkaran meja. Mereka seperti  sedang membagi wilayah kue dan menyantapnya dengan tamak. Tidak lagi layak seperti dipandang manusia, tetapi rakus dan jahatnya manusia melampaui binatang.

Abdi Setiawan mengibaratkannya manusia berwajah Gorila, di kepalanya tumbuh batang dan ranting menjulang ke langit. Penekanan terhadap kerakusan dan kejahatan itu tumbuh menjalar dan dapat menciptakan kehidupan lain dalam gagasannya. Wilayah kue dibuat landscape dengan peta rencana “pembangunan”, dibalik itu sesungguhnya akan terjadi eksploitasi dan eksplorasi pengrusakan keseimbangan alam.

 

Otokritik

Hanya dalam satu hari, orang Indonesia terkaya bisa mendapatkan bunga deposito dari kekayaannya, lebih dari seribu kali daripada dana yang dihabiskan penduduk Indonesia termiskin untuk kebutuhan dasar sepanjang tahun. Jumlah uang yang diperoleh setiap tahun dari kekayaan itu bahkan akan cukup untuk mengangkat lebih dari 20 juta orang Indonesia keluar dari jurang kemiskinan, demikian Oxfam melaporkan.

Laporan itu seperti Landscape yang dihidangkan di meja makan, menjelaskan kekuasan wilayah dibicarakan dan diatur oleh mereka yang dapat menduduki kursi di lingkaran meja tersebut.  Bagaimana nasib mereka yang justru berada dalam landscape?  itu bagian yang dimaksud dari rencana stategi mereka. Strategi mereka termasuk dalam rencana strategi sang kreator. Begitupun dengan karya patung yang dibuat dari kayu jati berumur ratusan tahun, bukankah bagian dari sebuah rencana eksplorasi dan eksploitasi alam?

Ini merupakan otokritik. Telunjuk mengarah ke sasaran satu, mengarah ke diri sendiri lebih dari satu, bisa dua tiga sekaligus.

Satu kursi yang sengaja kosong itu  seperti sedang menanti tuannya. Abdi Setiawan  membuat kursi bagian dari karyanya. Kursi kosong memunculkan pertanyaan, siapakah pemilik kursi itu?  Apakah pengunjung yang sengaja duduk, selfie atau Abdi Setiawan sendiri?

Begitulah seniman memiliki rasa humor, terkadang selengean, karakter yang melekat turunan kampus Gampingan. Sebuah tanda seniman masih tetap berfikir waras dan menjaga tetap waras: mana yang benar atau salah; mana yang baik atau keliru. Mengenal dirinya sendiri dan memahami prilaku yang aneh terjadi dalam dirinya,  dia berusaha menjaga jarak dengan prilaku yang keliru.

Penyadaran atau kesadaran dalam kekeliruan bila menyampaikannya dengan bahasa humor,  tidak terasa menyinggung perasaan pelaku prilaku keliru. Namun akan menganggap itu hanya lelucon biasa, siapapun dapat terjerat prilaku keliru. Manusia bukan malaikat yang selamanya baik dan benar. Manusia kadang sholeh, kadang bejad.*) –Art08 Keloran, Juni 2017

Jajang R Kawentar penulis Art Critique Forum Yogyakarta

 

 

 

MERAYAKAN HARI SENI MENGGAMBAR INDONESIA

Forum Drawing Indonesia (FDI) menggagas hari seni Drawing atau hari seni Menggambar pada 2 Mei 2018 di Kersan Art Foundation, di Jalan Samawaat no. 154, Desa Kersan Tirtonimolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta, dengan menggelar Pameran Seni Drawing yang bertemakan KEYDRAW KEYWORD.

Koordinator kegiatan Edo Pop perupa kelahiran Palembang Sumatera Selatan ini mengatakan (Senin, 23/4) bahwa Pameran KEYDRAW KEYWORD sebagai pembuka pintu bagi perupa yang beraktifitas di seni drawing dan mereka yang memiliki ketertarikan pada drawing. Selain itu punya keinginan mengumpulkan seluruh pendrawing di Indonesia.

Menurutnya bahwa ada berbagai faham drawing yang akan mewarnai keberagaman drawing sebagai kekayaan Indonesia. Oleh karenanya tercetus rancangan membuat Forum Drawing Indonesia dan sebagai momentumnya menggelar pameran drawing pada Rabu, 2 Mei 2018 di Kersan Art Foundation Yogyakarta dan sekaligus mencanangkan sebagai hari seni Drawing bagi Indonesia. Selain itu esoknya Kamis, 3 Mei 2018 ada acara diskusi yang mengambil bahasan Membaca Drawing.

“Forum Drawing Indonesia sebuah wadah yang terbuka bagi siapapun ingin terlibat dalam percaturan Drawing Indonesia. Untuk itu kita mengajak untuk sama-sama merayakan seni Drawing Indonesia pada 2 Mei 2018. Sebagai langkah awal dari kebersamaan itu kita tujuh belas perupa dari beberapa daerah, Abdullah Ibnu Thalhah (Semarang), Anis Kurniasih (Solo), Eduard ‘Edo Pop’, Hayatuddin, Joko Gundul, Riki Antoni (Yogyakarta), Dhanoe, Jopram, Mufi Mubaroch (Surabaya), Kris Dologh (Lamongan), Wahyu Nugroho, Garis Edelweiss (Pasuruan), Desy Gitary, Lenny Ratnasari, Mellisa Jayatri (Jakarta), Nandanggawe, Iwan Ismail (Bandung), dan plus kurator Jajang R Kawentar (Tasikmalaya) bersepakat menandainya dengan memamerkan karya Drawing.” Ungkap Edo Pop

Sementara Kurator pameran KEYDRAW KEYWORD, Jajang R Kawentar yang mengaku bukan kurator tapi Kurapreeet menjelaskan bahwa pada pameran Drawing kali ini cukup menandai sejauhmana perkembangan dan pemahaman perupa drawing yang terdapat di beberapa wilayah Jawa, meskipun mereka berasal dari pulau Jawa dan Sumatera.

“Keydraw Keyword itu Keydraw dibahasa Indonesiakan artinya Gambar Kunci dan Keyword artinya Kata Kunci. Kata kuncinya itu berkumpulnya seniman gambar. Gambar kuncinya mengolah goresan. Tapi bisa saja pengertiannya menjadi sempit ‘kata kunci’ hanya kunci sebagai kata benda, begitupun dengan ‘gambar kunci’ yang menunjukkan bentuk benda berwujud kunci. Namun tidak demikian halnya harapan dari ‘kata kunci’ dan ‘gambar kunci’ itu terbuka bagi siapapun yang memaknainya. Seperti dilakukan setiap individu seniman memaknai aktifitasnya mengolah goresan menjadi Drawing,” jelasnya, (25/4) saat ditemui di Kersan Art Foundation.

 

Untuk menegaskan bagaimana perkembangan drawing menurut Jajang R Kawentar bahwa, “Forum Drawing Indonesia ini sudah cukup mewakili dari perupa Drawing. Ke tujuh belas perupa drawing yang terlibat ini cukup berdedikasi tinggi. Hasrat menggambar mereka atau menggambar hasratnya saling berpaut. Apapun yang terjadi pada karyanya itulah kenyataan terkini seni drawing. Terkini dari segala sesuatu yang melingkupi seniman, terikini dari pilihan karya-karya drawing yang ada, dan terkini yang dapat dijadikan cermin bagi para pecinta seni atau masyarakat. Kita sebatas apa yang sedang dihadapi dan di luar sana itu tidak jauh beda,” ungkapnya.

 

Dengan terbentuknya Forum Drawing Indonesia dan pencanangan hari seni Drawing atau hari seni Menggambar akan lebih menggali lagi perkembangan seni di Indonesia dan mewarnai khasanah seni rupa dunia. Bagaimanapun sesuatu yang baik dirayakan dan didukung bersama-sama. Pada setiap 2 Mei sebagai hari seni Menggambar*)

 

 

 

Meeting

“DRUNKEN BROOM”

“DRUNKEN BROOM”

Oleh : Andika Budi Raharja

 

Untuk mencapai harmoni yang merupakan bagian seni yang esensial, seorang seniman harus berpegang pada sensasinya bukan pada visinya.
~ (Paul Cezanne)

 

Kenyataan-nya sebuah lukisan mengandung suatu keseriusan, namun di lain pihak terkandung pula unsur main-main. Karena itulah, lahir ungkapan dari kelompok Fauvism; “Ketepatan bukan selalu merupa-kan kebenaran.” Orang-orang yang berkreasi seni tidak ingin sekedar untuk meniru alam apa adanya (mimesis), melainkan alam ini ingin diciptakan kembali. Seniman mengolah kembali realitas sesuai dengan seleranya. Seperti halnya seni patung yang mati-matian berusaha menggambarkan figur manusia yang selalu berubah-ubah dalam bentuk tiga dimensi, untuk mengatur ketidakteraturan gerak-gerik menjadi satu kesatuan gaya yang agung (harmoni). Seni patung tidak menolak “imitasi”, yang justru diperlukannya. Tetapi imitasi bukanlah pencarian utamanya. Yang dicari oleh seni ini, adalah suatu gerak-gerik, ekspresi atau penglihatan tipikal (sensasi). Tujuannya bukan untuk meniru melainkan “memberinya gaya.”

Di lain tempat, pelukis memisahkan objek lukisannya sebagai jalan untuk menyatu dengannya. Melukis berarti meng-isolasi dalam ruang dan waktu, sebuah gerakan yang dalam kehidupan nyata lebur dalam gerakan lainnya. “Di sini tidak ada waktu yang ada hanya peristiwa yang membeku.” Sepenggal kalimat dalam novel Einstein Dreams karya Alan Lightman yang membicarakan tentang berbagai hakikat waktu, seolah sesuai dengan penggambaran itu. Pelukis membekukan gerakan-gerakan di dunia nyata, dengan menangkap gejolak tubuh objek-seninya yang selintas atau keluwesan sikap-sikap, untuk diletakkan dalam sebuah ekspresi yang sarat makna.

Ekspresi adalah istilah yang penting dalam dunia seni rupa. Hampir dalam semua madzab seni modern, bersumber dan selalu menggunakan label “ekspresionisme.” Perkataan tersebut secara fundamental menjadi penting, sama pentingnya dengan “idealisme” dan “realisme.” Apa yang terkandung di dalam “ekspresi” sebenarnya berupa lirisisme juga simbolisme. Lewat lirisisme atau “emosi yang mendalam,” dan juga simbolis, seni berambisi menata kembali semesta (cosmos). Seni ingin menciptakan sesuatu yang tak terhingga, namun bisa dipakai untuk mengembalikan pengalaman -yang tak terhingga yang pernah dialami tersebut dan ingin dialami kembali secara terus-menerus oleh manusia.

Seni ingin membuat sebuah karya yang bisa diukur dengan akal sehat, bisa dikomunikasikan, dan yang terpenting adalah memulihkan kembali the infinite atau yang sering dinamakan CHAOS.. Bukan semata-mata pengukuhan atas realitas atau kenyataan yang ada, melainkan tindakan atas dasar estetika melalui diri senimannya sendiri dalam menghadapi dunia waktu itu. Yakni, seniman mengolah kembali realitas sesuai dengan ekspresi atau ungkapan emosionil mendalam dan seturut seleranya. Keterlibatan individualisme ini yang menjadi karakteristik seni modern, kemudian memberi ciri dan gaya terhadap lukisan seseorang. Sebongkah kebebasan yang tak didapati pada madzab Seni Klasik. Gejala-gejala pemberontakan menuju kebebasan berekspresi, dahulu selalu dapat dipadamkan kembali oleh kepentingan kalangan borjuis dan bangsawan yang menjadi patron-patron seni masa itu.

Dalam segi teknis Eugene Delacroix sajalah yang tampaknya tersorot oleh publik seni, karena goresan kuasnya terkenal “lebih liar,” para pengamat bahkan menjulukinya sang “drunken broom“: sapuan kuas yang menggila atau sapuan kuas yang sengaja menunjukkan kekasaran juga ketegasan garis, karena tak didusel secara halus pada kanvas-nya. Idealisme klasik memang tak banyak mendukungnya kala itu, orang-orang lebih menyukai gambaran seni yang bersifat tenang. Delacroix maju sedikit ke depan dengan goresan ekspresif-nya dan unsur emosionil yang tak mudah untuk dimengerti seniman-seniman lain sezamannya. Sambutan hangat, datang justru dari generasi berikutnya yaitu Vincent Van Gogh, pelukis dari negeri “kincir angin” yang bahkan sampai merepro salah satu lukisan Delacroix yang berjudul “Pieta“. Di masa Van Gogh ekspresi individual juga “subjektifitas” dalam berkesenian telah lebih dikembangkan (terutama dalam kegiatan seni yang dilangsungkan di Salon-Salon), ruang di mana pergeseran estetika dalam kesenian baru serius dimulai.

Adapun pemaknaan aktual konsep Estetika sebenarnya berdekatan dengan individualitas. Estetika berasal dari kata Yunani “Aesthesis“, yang berarti perasaan atau sensitivitas. Itulah sebabnya estetika erat sekali hubungannya dengan selera perasaan atau apa yang disebut “taste” dalam bahasa Inggris. Estetika timbul tatkala pikiran manusia mulai terbuka dan mengkaji berbagai keterpesonaan rasa. Sensasi-sensasi yang diperoleh dalam hubungan atau kontak langsung dengan objek-seni. Langkah pertama pelukis adalah membuat berbagai bagian dari lukisannya selaras satu sama lain. Menghilangkan sebagian dan memilih sebagian lainnya. Prinsip seni lukis juga berbentuk suatu pilihan. “Kejeniusan,” tulis Delacroix “kalau dilihat dari seni yang dihasilkannya, tidak lain adalah bakat dalam menggeneralisasi dan memilih-milih.”

Seni merupakan suatu hakekat dari realitas yang rumit. Alam dan objek (yang umum dan yang khusus), personal dan impersonal juga kebebasan dan order (keteraturan). Kesederhanaan dan kompleksitas, bahkan kontinuitas dan diskontinuitas. Di dalam suatu karya seni yang merupakan suatu kesatuan atau harmoni akan terdapat diskontinuitas (keterputusan) dalam kontinuitas-nya (keberlangsungan). Sering disebutkan: “karya seni yang baik, dalam kontinuitas-nya harus ada diskontinuitas pada suatu bagian,” bila tidak karya seni tersebut justru tidak baik. Ada kedalaman dan ada kedangkalan. Karya seni nampak baik dari segi permukaan, juga akan lebih baik jika mengandung suatu kedalaman di dalam isinya. Ketenangan dan energi (diam dan bergerak). Suatu karya akan memperhitungkan kesatuan antara yang stabil dan tidak, yang berat dan ringan, yang serius dan yang gembira. Kesatuan antara yang kuat saja, atau yang energik saja justru tidak menimbulkan keindahan, atau malah sebaliknya dan mungkin akan “membosankan.”

 

Untitled

Y. M. Fakri Syahrani, “Meeting” Intaglio on Paper, 55 x 65 cm, 2018, Karya nantinya akan dipamerkan pada acara pemeran kelompok Kandang Ayam Project #2 Drunken Broom di Bentara Budaya 11 April 2018

 

“SEMESTA YANG TERTUTUP”

The creation of something new is not accomplised by the intelect, but by the play instinct acting from inner necessity. The creative mind plays with the objects it loves.”
– Carl Jung

Ekspresi atau ungkapan estetika (sensitivitas perasaan) menjadi hidup, hanya apabila seseorang masuk dalam laku penghayatan terhadap realitas-objek dan mengalami langsung sensasi itu dengan batinnya. Karena, seni sebagai ekspresi merupakan hasil ungkapan batin ataupun emosi mendalam seorang seniman yang tergambar ke dalam karya seni lewat “medium” dan “alat” yang memang dipilihnya. Pada saat seseorang sedang mengekspresikan emosinya, pertama mereka sadar bahwa mereka mempunyai emosi, tetapi bisa jadi belum menyadari seperti apa sebenarnya rupa-emosi itu? Baru dalam keadaan tertentu, misalnya karena adanya gangguan perasaan pada Self atau diri kita (entah karena sedih atau malah bahagia), dalam kondisi tertekan kemudian seseorang berusaha melepaskan perasaan yang datang tersebut dengan melakukan sesuatu (aktualisasi tindakan). Kegiatan semacam inilah yang dimaksud dengan ungkapan. Dengan demikian ungkapan dapat disebut sebagai “berbahasa”. Komunikasi dapat terjadi pada setiap manusia dengan manusia lain, walaupun punya latar belakang yang berbeda. Seni memungkinkan peristiwa tersebut dapat terjadi, karena bahasanya yang universal. Proses komunikasi dalam kesenian tercermin lewat lambang-lambang atau simbol yang ter-babar.

Dikatakan oleh Paul Cezanne, bahwa yang paling sukar di dunia ini adalah mengutarakan “ekspresi langsung” atau konsepsi yang imajiner. Apabila tindakan tersebut tidak dicocokkan dengan model yang objektif, maka buah pikiran akan menjelajahi kanvas tidak menentu. Tak ada pelukis yang tak memiliki objeknya, baik objek-seni itu bersifat fisik atau memori-nya sekalipun tetaplah sebuah objek (model yang dijadikan contoh). Memori-kolektif dalam psikologi Jungian kemudian dikenal sebagai arketipe, yang sering muncul dalam mimpi-mimpi dan kondisi kesadaran yang berubah (trance, trans). Semua itu Ada: digambarkan, dibekukan dari gerakan sehari-hari yang tak terputus. Gaya seorang pelukis merupakan pemanjangan terhadap alam dan sejarah; sebuah “kehadiran” yang diletakkan pada benda-benda yang melintas lewat. Dengan mudahnya, seni mewujudkan penyatuan -yang khas dan -yang umum sebagaimana diimpikan Hegel. Barangkali inilah sebabnya kenapa zaman-zaman seperti yang sedang kita lalui, yang terkagum-kagum oleh ide tentang kesatuan atau harmoni, menoleh kepada seni-seni primitif dengan stilisasi paling intens dan kesatuan paling “merangsang.” Ini sekaligus menjelaskan kuatnya negasi dan transposisi yang telah merangsang lukisan modern, dalam gejolak kacau balau untuk menunjukkan kehadiran sekaligus kesatuan. Kecenderungan fenomena dalam kesenian inilah yang coba kami ungkapkan dan maknai kembali, lewat pameran “DRUNKEN BROOM” kali ini.

Dalam komposisi primitifnya di luar sejarah yang merupakan “keadaan” paling murni dari Seni, akan ditemukan semangat pemberontakan dan individualism dari sisi senimannya sendiri. Seni, seperti pemberontakan, adalah sebuah gerakan yang pada waktu bersamaan bersifat mengagungkan sekaligus mengingkari. Tidak seorangpun seniman dapat menerima kenyataan, ” kata Nietzsche. Ini benar; tetapi juga tidak seorangpun seniman dapat hidup di luar kenyataan. Kreasi seni adalah kehendak kesatuan dengan, dan suatu penolakan (laku-kritik) terhadap dunia. Cara paling sederhana dan umum dalam menilai karya seni sebagai suatu ekspresi adalah dengan memandangnya sebagai suatu “pelarian.” Memang, kreasi seni menunjukkan adanya semacam penolakan terhadap kenyataan. Tetapi penolakan ini bukan pelarian begitu saja. Apakah kita lihat dalam kegiatan itu suatu gerakan pengunduran diri oleh seorang pengecut yang, menurut Hegel “dalam kekecewaannya menciptakan suatu dunia fiktif yang mengagungkan moralitas atau nilai-nilai?” Kenyataannya karya-karya yang menyajikan dunia moral sangat jauh dari karya seni besar. Bahkan menyedihkan dan sama sekali tidak menarik.

Inilah kontradiksinya: manusia menolak kenyataan dunia, tanpa berusaha lari dari dunia itu sepenuhnya. Kecuali pada saat tertentu, bagi mereka kenyataan yang ada ini adalah sesuatu yang “belum selesai.” Mereka berpindah-pindah dari tindakan yang satu ke tindakan yang lain, kemudian kembali lagi untuk menilai tindakan-tindakan tersebut dengan berbagai perlambang yang baru dan terus mengalir bagaikan air sungai Tantalus menuju muara yang tak dikenal. Mengetahui di mana garis sungai itu berakhir, menguasai arus warnanya, dan akhirnya menangkap kehidupan yang asing tersebut. Inilah kerinduan sejati manusia, di jantung tanah kelahirannya sendiri.

Tetapi bukan tidak mungkin terdapat suatu transendensi hidup, yang dijanjikan kepada kita oleh keindahan seni yang dapat membuat kita mencintai dunia kita ini. Dengan demikian seni membawa kita kembali kepada asal muasal pemberontakan ketika ia mencoba memberi bentuk kepada nilai yang bergerak bebas dalam proses menjadi (becoming) yang tanpa akhir; tetapi yang oleh seniman dirasakan dan dikehendaki untuk “dilepaskan” dari aliran sejarah. Kita dapat menggambarkan hal ini dengan lebih jelas dengan menelaah seni yang justru masuk ke dalam aliran sejarah dan memberinya gaya: novel. Esensi novel adalah koreksi terus menerus, selalu bergerak ke arah yang sama yang diberikan seniman kepada apa yang dialami. Koreksi ini pertama-tama bertujuan mencapai kesatuan (harmoni), dan dengan cara ini sebenarnya ia juga sedang menerjemahkan suatu kebutuhan metafisis.

Seni, seperti pemberontakan adalah gerakan yang pada waktu bersamaan bersifat mengagungkan “sekaligus mengingkari.” Kreasi seni menghendaki kesatuan dengan, dan juga suatu penolakan terhadap dunia. Ia menolak dunia karena hal-hal yang tidak ada padanya dan atas nama hal-hal yang kadang-kadang ada padanya. Dalam setiap pemberontakan terlihat tuntutan metafisik bagi adanya suatu kesatuan, ketidakmungkinan memperoleh kesatuan tersebut dan perlunya diciptakan sesuatu sebagai penggantinya. Ini sekaligus mendifinisan seni. Karena sebenarnya urgensi pemberontakan itu sebagian bersifat estetik.

Semua pemikiran yang diilhami oleh semangat pemberontakan selalu disinari oleh suatu retorika atau berada dalam sebuah “semesta yang tertutup.” Benteng retorika dalam Lucretius, kloster-kloster dan istana-istana terkunci dari Sade, pulau terpencil yang romantik, ketinggian-ketinggian yang menyendiri dari Nietzsche, lautan elemental dari Lautre’amont, istana-istana mengerikan yang dilahirkan kembali di antara kaum Surealis -semuanya ini dengan caranya sendiri-sendiri menunjukkan adanya kebutuhan yang sama akan koherensi dan kesatuan. Hanya dalam dunia-dunia yang tertutup inilah, akhirnya manusia dapat memiliki pengetahuan dan berkuasa. Gerakan tersebut tidak lain adalah seni itu sendiri. “Seniman mengolah kembali dunia sesuai dengan seleranya.”

Ekspresionisme berangkat dari realisme-dinamis, sebagai pelepasan diri dari ketidakpuasan faham realisme-formal. Vincent Van Gogh dianggap sebagai perintis gerakan ini di samping Cezanne, Renoir, dan Gauguin. Van Gogh memang banyak mengalami penderitaan dari masyarakat sewaktu hidupnya, namun yang tergores di dalam kanvasnya bukanlah semata-mata pengukuhan atas realitas yang ada, melainkan tindakan estetik atas dirinya dalam menghadapi dunia waktu itu. Lain lagi dengan tokoh ekspresionisme sejawatnya; Kandinsky malah memanfaatkan warna dan garis untuk menggambarkan kondisi spiritual. Apabila dilihat dari konsepnya, bahwa kalau suatu lukisan sudah tidak harus sesuai dengan bentuk dan warna alamnya, maka arahnya akan menuju sesuatu yang absolut atau dengan kata lain, menciptakan “sebuah dunia tersendiri.”

karya cat minyak diatas kanvas

Menyingkap Yang Tersembunyi

Menyingkap Yang Tersembunyi

 

Apakah kau tahu caranya membaca wajah? Tatkala seorang pria melayap mencari wajah yang lenyap, apakah kau pikir cukup mengejar maknanya belaka?

Pada Sabtu sore yang berhujan, 3 Desember 2016, ketika bertandang ke studionya di sebuah sudut kampung Bugisan, Jogjakarta—saya ajukan pertanyaan dari novel The Black Book Orhan Pamuk tersebut kepada Erizal As.

Saya menyengajakannya sebagai sebuah kendaraan pengetahuan untuk mengantarkan saya masuk-menemu pemahaman dan penghayatan akan sepuluh lukisan mutakhir, semuanya bertitimangsa 2016, pelukis kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 3 Februari 1979, itu. Apalagi, sebagaimana tersua dalam pameran tunggalnya Refiguring Portraiture di Gajah Gallery Singapura, 15 Desember 2016-2 Januari 2017, kesepuluh lukisan cat minyak itu berpokok perupaan potret manusia dengan wajah sebagai pusat perhatiannya.

Tak saya kira, sebagai responsnya, Erizal menghela kendaraan pengetahuan saya tersebut menuju lalu waktunya pada 27 Januari 2006, saat dia menggelar pameran tugas akhir karya seni lukis bertajuk Problematika Sosial Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis di Gedung Seni Murni Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Jogjakarta.  

Lalu waktu itu penting bukan hanya sebagai momen kebenarannya menjadi seorang sarjana seni rupa, melainkan juga penanda eksistensialnya selaku pelukis profesional yang memiliki kepekaan sosial, kalau bukan kesadaran kritis atas kenyataan haru-biru di tengah masyarakat.

 

Erizal AS, (Faceless Series), 200 x 150 cm, Acrylic, Charcoal, & Pastel on Canvas, 2015-2016

 

Erizal As, Faceless 06, 150x130cm, Acrylic,Charcoal, pastel on canvas, 2015

 

Dengan itu, Erizal ingin menempatkan lukisan-lukisannya sebagai model pernyataan (model of statement) atas realitas sosial dan kemanusiaan di sekitarnya. Model itulah sejatinya yang memampukannya dapat tempat di medan seni rupa Indonesia. Tapi, sekira satu dasawarsa terakhir, Erizal terkesan menjauhi model itu dalam proses kreatifnya berseni lukis. Alih-alih, model itu tergantikan oleh model penggambaran (model of picture) dan penggalian artistik yang berpusat pada garis dan irama visual, sebagaimana terlihat dalam pameran tunggalnya Lines Projects (Koong Gallery, Jakarta, 28 September 2007), Rhythm of Art (Philo Art Space, Jakarta, 11-24 Juli 2012), dan Visual Symphonies (Ganesha Gallery, Bali, 2 Agustus-1 Oktober 2012).  

Tapi, saya ingin menggarisbawahi model penggambaran dan penggalian artistik itu sebagai proses penguatan energi kreatifnya untuk bertungkus-lumus dengan lukisan model pernyataan berpokok perupaan potret manusia. Terbukti, empat tahun kemudian, Erizal menciptakan lukisan bertopik Faceless Series yang diusungnya bersama seri lukisan begawan seni lukis modern dunia Nyoman Adiana dalam pameran Visage Blanc Sans Visage di Sangkring Art Project, Jogjakarta, 28 April 2016.    

Pada hemat saya, lukisan Faceless Series itu penting untuk diingat di sini. Sebab, ia merupakan titik berangkat yang baik untuk memahami perkembangan estetik dan pencapaian artistik mutakhir Erizal sebagaimana terdapat dalam pameran Refiguring Portraiture.  

Maka, saya ingin mengatakan pameran itu sebagai penyempurnaan bentuk, teknik, dan ide lukisan potret bermodel pernyataan Erizal. Lihatlah, misalnya, King & Queen, yang dibuatnya dengan teknik palet yang dahsyat, sebuah teknik artistik yang jarang kita temukan di dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Dengan itu, sapuan-sapuan di kanvasnya menciptakan tekstur berlapis yang mengaduk-aduk imajinasi di antara goresan, lelehan, dan torehan garis dan warna cat minyak yang memungkinkan pemirsa mempertautkan diri dengan pokok gagasan lukisan tersebut, yaitu kerajaan atau keratuan.

 

Jadi, alih-alih menggambarkan sosok raja dan ratu yang ostensif, sosok raja dan ratu yang dapat dicek secara empiris, misalnya, raja dan ratu Inggris, lukisan tersebut merupakan profil raja dan ratu deskriptif, profil yang direka oleh Erizal untuk membuka makna raja dan ratu seturut sensasi, persepsi, dan memori pemirsa yang menatapnya.

Karena itulah lukisan tersebut bisa jadi memukau, menggetarkan, mengenaskan atau mengharu-biru sebagai cermin imajiner yang puitis atau kaca jendela khayali yang suram tentang kerajaan atau keratuan yang bertakhta di lidah dan hati pemirsa.

Karena itu pula, alih-alih menyabur-limburkan sosok raja dan ratu yang ostensif dengan sapuan bertenaga, garis ritmis, goresan ekspresif, dan lelehan impulsif—lukisan tersebut menampakkan “wajah sejati” raja dan ratu yang absen atau diabsenkan oleh pemujaan atau penyangkalan insani.

Pada titik itu, wajah manusia merupakan terra incognita: sebuah tempat tak bertuan yang terbuka diperebutkan, dengan tindakan dan citraan, untuk mengukuhkan nilai ekonomi, sosial, atau estetis. Itulah yang digambarkan dengan sangat impresif oleh Erizal dalam lukisan Selfish dan Eager.  

 

Kedua lukisan bertarikh 2017 itu adalah salah dua dari empat lukisan cat minyak di kanvas paling baru Erizal yang dipamerkan Gajah Gallery di Art Basel Hong Kong, 21-25 Maret 2017. Di sana, sekali lagi, Erizal tak menggambarkan sosok ostensif, tapi membuat pokok soal insani, yaitu kecenderungan alamiah manusia untuk bertukar tangkap dengan lepas dalam oposisi berpasangan, menjadi terlihat sebagai perkara eksistensial abadi tentang hubungan tubuh dan jiwa atau impian dan kenyataan.

Dengan pokok soal insani dan perkara eksistensial abadi itu, bijaksananya Erizal tak membiarkannya melayap tak terkatakan atau tak tergambarkan begitu saja. Dengan cara apa? Tentu saja dengan cara memberinya makna: mempertanyakan, mengontraskan, dan menyingkapkan, sehingga tampak sebagai apa yang ingin kita ketahui selama ini, bahwa wajah adalah konstruk atau pantulan, antara lain, keserakahan dan kekerasan manusia atau kepekaan dan kebijaksanaan manusia.

“Dengan cara itu, saya kira, ikhtiar kreatif saya lewat seni lukis untuk mempelajari orang lain dan diri saya sendiri sudah terbilang cukup. Belum ada cara lain, kecuali mengejar maknanya dengan sapuan, goresan, torehan, dan lelehan di kanvas,” kata Erizal.

Dengan itu, lukisan potret-lukisan potret Erizal, yang sejauh ini berkerabat dekat secara artistik dengan lukisan-lukisan potret dan wajah manusia karya pelukis kontemporer Inggris Antony Micallef dan pelukis kontemporer Rumania Adrian Ghenie, merupakan sebuah sketsa penciptaan yang belum sudah, tapi membuat khazanah seni lukis potret di Indonesia menjadi segar, baru, dan utuh, paling tidak menjadi kemungkinan lain yang menjanjikan. (*)  

 

WAHYUDIN,

Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta   

   

Versi Inggris esai ini terbit di katalog pameran tunggal Erizal As, REFIGURING PORTRAITURE, Gajah Gallery, Singapore, 15 Dec 2016—2 Jan 2017. Terbit ulang di FORUM indoartnow.com. Versi cetak esai ini terbit di Jawa Pos, Minggu, 26 Maret 2017.

Idealisme Super Penting, Pasar Membuat Realistis.

Idealisme Super Penting, Pasar Membuat Realistis.Kalau begitu, apa tugas seniman?

Urusan seniman berkarya. Yang lain urusan manajemen.

Oke. Apa arti pameran bagimu?

Pameran itu penting—tapi sejauh mana efek yang bisa dihasilkan(nya). Kenapa aku malas ikut pameran, karena aku harus melihat efeknya apa. Berefek nggak buat namaku. Aku kan individual—jadi harus berpikir “berguna nggak buat aku?” Kalau nggak berguna buat apa! Logikanya kayak gitu. Bukan hanya ikut pameran terus berkhayal jadi orang besar—nggak mau saya, saya harus tahu bermanfaat atau nggak.

Begitu ya?

Ya. (Lebih baik) satu kali pameran yang ngejreng ketimbang lima puluh kali (pameran) tapi nggak bergaung. (Padahal) gaung (itu) penting …

Baiklah. Di manakah letak nilai seorang seniman?

Tergantung cara melihatnya … Kreativitas. Soal siapa yang hebat, di atas, dan lain-lain—adalah sesuatu yang masih bisa diperdebatkan. Kreativitas adalah nilai sejati seorang perupa.

Termasuk punya idealisme, ya?

Harus ada kontrol. Harus ada balance kan. Idealisme penting. Super penting. (Tapi) pasar (yang) membuat (seniman) realistis.

(Sampai pada titik itu, Masriadi mengutip pernyataan Dewa Bujana, gitaris band Gigi, tentang logika terbalik di dunia industri rekaman musik Indonesia saat ini yang lebih mementingkan popularitas ketimbang kreativitas. “Kata Bujana, pemain-pemain musik sekarang pengennya terkenal dulu, baru kemudian belajar musik,” ujar Masriadi.

Itulah yang membuat rancu antara musisi yang pro[fesional] dan yang amatir. Kerancuan ini, menurut Masriadi, jangan sampai terjadi di dunia seni rupa. Sebab, bukan hanya keterampilan—alih-alih keterkenalan—yang penting, melainkan lebih dari itu adalah kreativitas seorang perupa.)

Oke. Karya seperti apa sih yang menarik di mata pasar?

Aku percaya, karya berkualitas pasti dihargai—meskipun bisa juga sekedar tren.

 

—Wahyudin As

Bakat, Kerja Keras, Karakter, Tanggung Jawab, dan Keberuntungan

Saat saya mulai mengoleksi karya seni rupa, perupa-perupa muda—seperti Handiwirman Saputra, Jumaldi Alfi, M. Irfan, Nyoman Masriadi, Nyoman Sukari, Pande Ketut Taman, Putu Sutawijaya, Yunizar, Yusra Martunus dll.—belum ada di pentas seni rupa Indonesia. Saat itu yang saya koleksi adalah karya-karya old masters Indonesia, seperti Affandi, Hendra Gunawan, Sudjojono, dan Widayat.

Tapi, selain sering ke Yogya dan punya hubungan dekat dengan perupa-perupa Yogya, terutama Affandi, saya harus turun mengoleksi ke bawah—ke generasi Nyoman Gunarsa, Aming Prayitno, Subroto, Suraji, dan lain-lain. Apalagi, saat itu para perupa old masters sudah semakin menua, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal—tidak ada kolektor di sini.

Berbeda dengan sekarang, orang masuk ke pasar seni rupa dengan sadar untuk menjadi kolektor. Lantas lihat buku lelang ini—dan main telunjuk: “saya mau ini, ini, ini, ini!” Dulu tidak begitu. Perupa-perupa yang datang ke sini. Ada Nasirun, Entang Wiharso, Sukari, dan lain-lain. Selain itu, saya kerap datang ke pameran seni rupa. Misalnya, pameran kelompok Spirit 90 puluh—saya datang dan memborong. Nah, ini tentunya didengar oleh perupa-perupa yang lebih muda, seperti kelompok Jendela. Mereka pun menghubungi saya—dan saya berjanji akan selalu menghadiri pameran mereka dan pameran kelompok-kelompok perupa muda lainnya yang sudah ada saat itu, seperti kelompok Genta, kelompok Semut, dan lain-lain.

Saya tertarik melihat pameran-pameran mereka karena banyak karya yang bagus. Jadi, pada masa itu saya sudah mengoleksi karya-karya mereka, termasuk karya Ardison, Saftari, Sigit Santoso, Bunga Jeruk, dan Gusmen Heriadi—perupa-perupa muda yang pernah dan masih dikontrak Edwin Gallery itu. Semuanya saya koleksi.

Saya juga sudah mengoleksi karya-karya perupa muda Bali saat itu—dan karena itu saya dekat dengan mereka. Apalagi saya memang dekat dengan Made Jirna, pelukis yang lebih senior dari perupa-perupa Bali seangkatan Sukari.

Karena Jirna mempunyai pengaruh besar di kalangan perupa-perupa muda Bali itu, setiap kali mengadakan pameran di Bali, di Padma Hotel, kami ajak Sukari, Pande Ketut Taman, Putu Sutawijaya untuk pameran. Lantas kelompok Jendela, kami pamerkan juga di sana. Sayangnya, kolektor-kolektor di Jakarta, yang masih menyenangi old masters, ketika saya undang tak ada yang berminat. Sebaliknya, teman-teman di sekitar sini (Magelang) saja yang berminat mengoleksi karya-karya perupa muda itu.

Namun demikian, saya terus memotivasi kolektor-kolektor di Jakarta itu untuk mengoleksi karya-karya perupa muda Indonesia. Sebab, menurut pandangan saya, seni rupa Indonesia harus ada successor-nya untuk menggantikan para old masters yang sudah meninggal. Nah, kalau successor-nya tidak didukung, habis kita nanti—dan bagaimana kita akan maju?

Jadi kita harus mendukung successor-nya, terutama yang benar-benar potensial. Mendukungnya dengan apa? Ya, dengan mengoleksi karya-karya mereka. Apalagi, pada waktu itu, karya-karya old masters sudah langka, mahal, tak terbayar dan sebagainya. Nah, kita perlu mencari alternatif lainnya yang menarik, dan sesuatu yang berbeda.

Akhirnya, saya punya pengikut. Kalau ada pameran perupa-perupa muda, mereka datang—dan akan berkunjung ke museum saya untuk apa-apa yang berkenaan dengan mengoleksi karya seni rupa. Dari sini hubungan kami menjadi erat. Pendeknya, perkembangan mengoleksi itu berjalan natural. Bermula dari karya-karya old masters, lantas ke karya-karya perupa muda—dari generasi Nyoman Gunarsa hingga generasi Ivan Sagito dan seterusnya.

Tahapannya jelas, hanya saja generasi sekarang—generasi Masriadi—lebih beruntung. Ya, dalam hidup ini tidak ada yang bisa menampik atau mengingkari keberuntungan. Sebab, menurut saya, untuk jadi perupa terkenal, tentunya, perlu bakat. Tapi bakat thok tidak cukup, harus kerja keras, dan punya karakter. Kalau karakternya brengsek—suka berubah terus-menerus—akan repot. Nah, tanggung jawab pun penting. Yang terakhir, itu semua harus disertai dengan faktor “X”—yaitu faktor luck (keberuntungan).

Misalnya, pelukis Sudibyo itu hebat—jauh lebih hebat dari Basuki Abdullah—tapi kok tidak terkenal!? Justru Basuki Abdullah yang lebih terkenal! Karena faktor luck—karena ia di Madiun saja, tidak pernah bergaul. Jadi, faktor luck itu ditentukan oleh dirinya sendiri. Ya, itu filsafat hidup—semua itu ada di situ—tidak bisa lepas-lepas.

Anak-anak ini (Masriadi dkk.) bakatnya jelas ada, skill-nya jelas ada. Kalau tidak, karya-karya mereka juga tidak bagus, kan!? Skill itu termasuk imajinasi—ada pada mereka. Tapi mereka beruntungnya hidup di zaman sekarang yang, sebenarnya, sangat dibantu oleh kemunculan China. Kalau China tidak seperti sekarang, saya kira, seni rupa Indonesia juga tidak akan seperti sekarang. Padahal, China sepuluh tahun lalu masih kalah sama Indonesia. Lukisan-lukisan Affandi lebih mahal daripada lukisan-lukisan pelukis-pelukis top di China. Sekarang kok disalip habis-habisan. Faktornya banyak tentu saja. Ada faktor ekonomi, politik, dan jumlah penduduk China yang banyak sekali dan tersebar di seluruh dunia.

Jadi, anak-anak ini harus bersyukur. Affandi harus menunggu keberuntungannya begitu lama. Hendra Gunawan sampai mati tidak pernah mengalami keberuntungannya, padahal dia begitu hebat. Mereka masih muda, tapi sudah hidup “wah”. Punya porsche, rumahnya banyak, ke New York naik pesawat kelas bisnis, sementara saya naik ekonomi!

Tapi persoalan mereka sekarang adalah bagaimana bisa bertahan di tengah pasar yang terlalu dominan, yang maunya goreng-menggoreng, sehingga seolah-olah karya yang bagus hanya yang laku keras di balai lelang, yang harganya mahal—yang di luar itu tidak. Inilah penyakit zaman kontemporer. Susahnya, yang keliru ini masih dipercaya beberapa kolektor di Indonesia.

Karena itu, saya sering bilang kepada sejumlah kolektor lainnya, kita harus tetap berpikiran jernih, kita harus belajar terus, belajar melihat, belajar sejarah, termasuk sejarah pasar, dan sejarah segalanya. Kita harus betul-betul menguasainya, sehingga kita mempunyai keyakinan diri bahwa barang yang baik, kualitas yang baik, never go down.

Kalau kita yakin itu baik, walaupun ditinggal orang, kita tetap menyambutnya. Jangan takut menjadi kontroversial. Dengan keyakinan diri, pengetahuan yang cukup memadai, fondasi yang kuat—kita tidak akan goyah dan tidak gampang digoyang atau dipermainkan orang.

Jadi, pertimbangan saya jelas dalam mengoleksi—yaitu kualitas. Kalau karya tidak berkualitas, sekalipun digoreng, didongkrak, dan sebagainya, tetap tidak masuk pertimbangan. Seperti pepatah Belanda bilang: “Anggur yang baik tidak perlu dekorasi.” Karena itu, saya sebenarnya tidak perduli dengan istilah tradisional, modern, kontemporer, atau apa pun namanya, terserah, yang penting kualitas. Dan itu yang akan survive. Yang tidak berkualitas, masuk second layers. Hukum Darwin berlaku di sini: “Survival perfectus”—Yang hebat pasti survive, yang medioker pasti tersingkir.

Karena itu pula, dalam berbagai kesempatan, seperti lecture dan sebagainya, saya selalu menyerukan untuk “jangan mengoleksi nama besar”, tapi “mengoleksilah karya besar!” Jadi, saya anti mengoleksi brand name. Saya mengoleksi high quality look of art. Saya disuruh mengoleksi karya Masriadi kelas kambing!? Pasti saya tidak mau! Saya lebih baik beli karya Irwanto Lentho yang bagus daripada karya Masriadi yang jelek! Saya lebih baik beli karya Nasirun yang bagus daripada karya Handiwirman yang jelek! Saya selalu tidak senang dengan brand. Pakai mata dan rasa—bukan main dompet! Kalau tidak berkualitas, karya itu tidak akan bisa bertahan. Sooner or later pasti njengking!

Itu sebenarnya ilmu dari Affandi, Widayat, dan sebagainya. Mereka lah yang mengajarkan saya melihat lukisan dengan menggunakan perasaan. Kalau melihat lukisan, menurut Widayat, lihatlah yang “greng,” yang punya “greget.” Sedangkan menurut Affandi, lihatlah yang enak dirasakan. Tapi, pada dasarnya, saya adalah orang yang emosional, perasa, apalagi saya pernah belajar musik, terutama biola. Itu kan penuh rasa. Karena itu, saya suka dengan karya-karya seni rupa yang ekspresif.

Sukari, misalnya, karya-karyanya luar biasa ekspresif. Langsung menarik saya. Contoh lainnya, lukisan Alfi dan Handiwirman, tidak terlalu berat tapi punya estetika tinggi. Indahnya ada. Rasanya ada. Nah, saya lihat karya-karya kelompok Jendela memenuhi syarat itu. Sementara itu, seperti halnya Sukari, karya-karya anak Bali yang ekspresionis dan abstrak ekspresionis itu memang mementingkan rasa. Nah, kalau Masriadi sama sekali nyeleneh. Tapi yang nyeleneh itu dibikinnya menarik—apalagi tidak ada sebelumnya yang seperti itu. Ide-ide dan humornya nyeleneh dan menarik.

Jadi, selera itu sebenarnya yang pegang peranan dalam saya mengoleksi karya-karya kelompok Jendela dan Bali. Karya-karya Putu, misalnya, sekalipun ekspresif, kekuatannya terletak di garis. Dia sebenarnya seorang draftsman yang bagus. Drawing-nya pun bagus.

Pendeknya, saya senang sekali dengan karya-karya mereka yang abstrak, tapi penuh rasa dan artistik tinggi. Enak di mata, enak di hati, seperti diajarkan Affandi, saya beli tanpa terlalu banyak berpikir apa cerita atau isinya.

Begitu pula dengan karya-karya lainnya yang saya koleksi. Saya hampir-hampir tidak pernah bertanya ceritanya. Saya kadang-kadang tidak tahu judulnya. Asal kualitasnya bagus, saya beli. Barulah setelah saya membangun museum, saya pajang—dan orang-orang datang berkunjung dan bertanya ceritanya—saya terpaksa harus bercerita. Ada yang saya tidak tahu ceritanya—ya, saya karang sendiri. Picasso pernah bilang: Begitu tercipta, seperti apa cerita dalam sebuah lukisan tergantung pada pemirsanya.

Tapi lebih penting dari itu adalah bagaimana merawat karya-karya itu. Seorang kolektor wajib memelihara karya-karya itu dengan baik, karena mereka adalah jiwanya seniman. Kalau ada kerusakan diperbaiki dan sebagainya. Pendeknya, dimaintenance dengan baik. Lebih baik lagi kalau bisa diperlihatkan kepada umum. Dengan begitu, karya-karya itu akan hidup terus, abadi, dan dikenang.

 

—Sebagaimana diceritakan kepada Wahyudin As