Data Artikel

Dosa yang Indah Riki Antoni

oleh Jajang Kawentar
Penulis di Forum Kritik Seni, Artworker

 

Bagaimana  mungkin dosa dibentangkan menjadi lukisan atau lukisan sebagai dosa. Betapa indahnya dosa bila terbentang menjadi lukisan. Apa yang ada di benakmu lukisan dari sebuah dosa.

Bukankah proses para pendosa ketika berbuat dosa disusun menjadi garis dan warna, digojlog, diolah, diendapkan, dan disalurkan lewat rasa. Di sini seniman berperan sebagai pencatat peristiwa sekaligus bagian dari para pendosa itu.

Tidak hanya dosa yang tergambar, tetapi juga doa. Dosa-doa menjadi garis dan warna. Menjadi individu juga massal. Inilah keindahan Riki Antoni. Pelarian di antara dosa modernitas dan doa kaum romantis pada dunia pastoral. Dunia anak-anak, teks yang terabaikan dalam konteks yang dipenuhi ancaman dan politik bau comberan.

Apalah arti dari BacktoNatureGo GreenHumanisme, generasi yang hilang, semua merupakan tanda zaman. Ketika orang-orang ingin kembali mengalami masa kecilnya, masa lampau, masa terbentuknya sebuah kenangan.

Ketika orang kian memahami bagaimana kesehatan alami, orang terus merawat tubuhnya supaya awet muda, dan panjang umur. Namun kesadaran itu tidak diiringi dengan menyelamatkan lingkungannya, dan asupan konsumsinya serba instan, serba diawetkan.

Kalau demikian akan semakin berkurang orang-orang merayakan ulang tahun, dan semakin banyak orang-orang mengucapkan duka cita.

Antara sadar dan tidak, antara kehancuran dan harapan, antara hukum dan kebebasan, antara pengalaman dan realitas Riki Antoni membentang kisah. Ia mengisahkan masa lampau, kini dan masa depan. Ia meletakkan teks karyanya dalam struktur historis. Ia berkisah sekaligus bersiasat dengan umur dalam bingkai tradisi di tengah serbuan modernitas yang melapukkan banyak hal.

Tokoh dan Cerita yang Terus Hidup

Panjang umur itu tidak hanya sekedar gagasan, tapi gagasan itu membuat panjang umur. Gagasan Riki Antoni menciptakan garis, warna dan bentuk-bentuk tanda awet muda, romantis, natural, sedih dan bahagia tetap bersahaja, marah dan lucu tetap imut-imut innocent.

Pemandangan gagasan memanjangkan umur itu menyuguhkan rasa gemessegemes-gemesnya. Gemes melihat Riki Antoni dalam setiap garis dan warnanya. Warna-warna yang menyapa lembut, bersahabat, sejuk, dan garis yang membentuk objek seperti berdialognya cinta kasih.

Inilah yang dimaksud membebaskan diri dari belenggu modernitas, khususnya pasca-Perang Dunia I, era surealisme dimulai. Namun, Riki Antoni lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 1 Januari 1977 ini meletakkan surealisme itu pada adat istiadat dan tradisinya.

Menanam-tumbuhkan kembali, ingatan terhadap pemandangan alam pedesaan,  yang memesona, indah natural. Pemandangan itu juga menghidupkan ingatan masa lampau, keindahan alam dalam sebuah cerita. Imajinasi yang muncul berupa rasa cemas, kekhawatiran juga harapan, baik yang diciptakan sendiri atau muncul karena melihat ketegangan realitas sosial.

Ada kerinduan, kesejukan ketika diabadikan, ada keinginan melancong dan menjadi bagian dari tokoh atau figur dalam lukisan. Leher panjang, mata bundar besar memberi isyarat-isyarat, begitu banyak tanya tersimpan dan begitu lama menunggu jawaban-jawaban.

Begitu banyak janji, sekian lama pula menunggu ketidakpastian. Sesungguhnya jujur, keadilan, dan menepati janji menjadi langka dan mahal. Menjadi hal ang surealis, seperti juga kemustahilan.

Figur-figur berbentuk kartun yang mengisyaratkan hidup tidak ada matinya, menunjukkan harapan panjang umur. Hidup abadi atau Aku ingin hidup seribu tahun lagi, seperti kata Chairil Anwar dalam puisinya

#dokumenselasat

Idealisme Super Penting, Pasar Membuat Realistis.

Kalau begitu, apa tugas seniman?

Urusan seniman berkarya. Yang lain urusan manajemen.

Oke. Apa arti pameran bagimu?

Pameran itu penting—tapi sejauh mana efek yang bisa dihasilkan(nya). Kenapa aku malas ikut pameran, karena aku harus melihat efeknya apa. Berefek nggak buat namaku. Aku kan individual—jadi harus berpikir “berguna nggak buat aku?” Kalau nggak berguna buat apa! Logikanya kayak gitu. Bukan hanya ikut pameran terus berkhayal jadi orang besar—nggak mau saya, saya harus tahu bermanfaat atau nggak.

Begitu ya?

Ya. (Lebih baik) satu kali pameran yang ngejreng ketimbang lima puluh kali (pameran) tapi nggak bergaung. (Padahal) gaung (itu) penting …

Baiklah. Di manakah letak nilai seorang seniman?

Tergantung cara melihatnya … Kreativitas. Soal siapa yang hebat, di atas, dan lain-lain—adalah sesuatu yang masih bisa diperdebatkan. Kreativitas adalah nilai sejati seorang perupa.

Termasuk punya idealisme, ya?

Harus ada kontrol. Harus ada balance kan. Idealisme penting. Super penting. (Tapi) pasar (yang) membuat (seniman) realistis.

(Sampai pada titik itu, Masriadi mengutip pernyataan Dewa Bujana, gitaris band Gigi, tentang logika terbalik di dunia industri rekaman musik Indonesia saat ini yang lebih mementingkan popularitas ketimbang kreativitas. “Kata Bujana, pemain-pemain musik sekarang pengennya terkenal dulu, baru kemudian belajar musik,” ujar Masriadi.

Itulah yang membuat rancu antara musisi yang pro[fesional] dan yang amatir. Kerancuan ini, menurut Masriadi, jangan sampai terjadi di dunia seni rupa. Sebab, bukan hanya keterampilan—alih-alih keterkenalan—yang penting, melainkan lebih dari itu adalah kreativitas seorang perupa.)

Oke. Karya seperti apa sih yang menarik di mata pasar?

Aku percaya, karya berkualitas pasti dihargai—meskipun bisa juga sekedar tren.

 

—Wahyudin As