Data Artikel

FREEDOME

Mendekati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 pertemuan tidak sengaja membicarakan masalah kemerdekaan, seni rupa dan project seni Preeet. Bagaimana rasa nasionalisme itu terbangun dan dibangun dari berkumpul tidak sengaja. Berbicara masalah perjuangan melawan penjajah, melawan kolonialisme, kapitalisme, dan masalah oligarki, sampai pada pasar seni rupa. Quo Vadis Seni Preeet?

Pada intinya bagaimana menggagas pameran seni yang sederhana namun syarat makna. Melibatkan generasi milenial, tanpa mengurangi partisipasi orang tua yang mengaku perupa tapi sudah tidak berkarya kecuali dapat order atau dapat tawaran pameran (seniman masif) dan melibatkan masyarakat sekitar. Tidak hanya sekedar tontonan tapi juga tuntunan dan yang paling penting menghasilan kritik, selebihnya menghasilkan duit.

Masing-masing berbicara dengan kemampuan dan pengetahuan alakadarnya. Tanpa embel-embel gelar Prof.Dr. atau referensi buku, semua mengalir berdasar pengalaman alakadarnya. Bicara ngalor ngidul tanpa sedikitpun membahas masalah tranding topik masyarakat dunia, Covid-19. Mungkin pertemuan tidak penting dan tidak sengaja itu juga karena alasan virus itu atau karena ingin membebaskan diri dari virus yang membelenggu pikiran.

Barangkali karena terbiasa dan teruji dengan penderitaan yang kadang menakutkan seperti raksasa yang hendak mengejar dan melahap. Mental yang metal yang mantul (Mantap Bantul); segala sesuatu adalah kebutuhan hidup yang mau tidak mau harus dihadapi dan dilewati.

Pertemuan tidak sengaja itu melahirkan semangat Pancasila, semangat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), guyub rukun, ingarso sung tulodho, bahagia walau menderita. Semua akan kembali kepada fitrahnya FREEDOME, yaitu sederhananya pameran seni rupa tidak sesederhana di Bangunjiwo Artdome.

Intinya menderita itu harus dirayakan rame-rame biar bahagia. Bahagia rame-rame itu harus disyukuri walau menderita. Intinya belajar tegar, belajar menghadapi kenyataan seperti seorang ibu. Intinya itulah kelebihan kita, yaitu ngeyel harus kreatif. Pepatah seni Preeet mengatakan; ‘Kita tidak pikir apa yang orang pikirkan, kita berpikir apa yang kita masalahkan.’

Bagaimana melihat orang bahagia, kita juga ikut bahagia. Bukan melihat orang pameran kita juga sibuk bikin pameran. Bukan juga sibuk ngomongin orang pameran jualan. Intinya kita semua orang butuh bahagia. Bisa pameran juga salah satu kebahagiaan, bisa juga itu penderitaan. Masih banyak seniman tidak bisa berpameran, dalam hatinya mungkin ingin sekali ikut pameran.

 

Edi Priyanto, Best Friend, Acrylic on Canvas, 30 x 30 cm, 2019

Edi Priyanto, Best Friend, Acrylic on Canvas, 30 x 30 cm, 2019

 

Mari ke Bangunjiwo Artdome ada pameran FREEDOME di Rumah Teletubies, Cikalan, Rt.02 DK II, Ngentak Bangunjiwo, Kasihan Bantul, Yogyakarta. Pameran seni rupa seniman kampung yang gawul. Bergaya NgeHip-Hop, NgePopSurealist, Ngabstrak, Ngekinetik, Ngegrafis, NgeBrut, Ngerealis contemporer, semua memiliki kelebihan kekuatan dan memiliki misi visinya masing-masing. Intinya Bahagia dan FREEDOME.

Pameran memperingati Kemerdekaan Indonesia ke 75 ini, menampilkan karya 17 seniman, diantara seniman yang pameran tersebut: Ahmad Arif Affandi, Dadah Subagja, Dadang Imawan, Deden FG, Desmond Zendrato, Edy Priyanto, Fikri MS, Juned Coret, Riki Antoni, Ipo Hadi, Nurify Basuki, Paul Agustian, Oktavianus Bakara, Sukri Budi Dharma aka Butong, Togi Mikkel, Wijexs, dan Windi Delta. Sekaligus meresmikan Bangunjiwo Artdome yang membebaskan oleh pemiliknya Deden FG dan Selectia Rizka Alissawarno.

Kita tidak menerima saran tapi kita menerima kritik. Semoga dengan adanya kritik kita semua sadar bahwa kita memiliki kelemahan dan kekurangan begitupun yang mengkritik. Kita akan selalu belajar sampai menemukan kesempurnaan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 75 semoga semakin dewasa toto tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi, bro di juru bro di panto ngalayah di tengah imah. Intinya mah kita bahagia. FREEDOME Bangunjiwo Artdome, Merdeka!!!

Bangunjiwo, 16 Agustus 2020

Jajang R Kawentar

Kurapreeet

Ambarium: Pray, Hope & Dreams

Oleh Jajang R Kawentar

Ambar Pranasmara Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta membuka kejutan pasar seni rupa Malaysia bekerja sama dengan Senso Art Gallery Cafe, Jalan Tan Hiok Nee, Johor Baru 25a, Malaysia, mengadakan pameran tunggal seni rupa yang bertajuk Pray, Hope & Dreams dibuka pada 16 September 2018. Seyogyanya pameran berakhir hari Minggu, 30 September 2018 diperpanjang hingga 15 Oktober 2018. Pameran ini menampilkan 60 karya lukis akrilik di atas kertas dan kanvas dengan ukuran bervariasi relatif mudah dicangking.

Senso Art Gallery sendiri terletak di kota Johor Lama dengan arsitektur bangunan tua berupa ruko dekat dengan jalur penyebrangan ke Singappore, cukup strategis mendapat banyak pengunjung. Angin segar bagi para perupa yang ingin mencoba menjelajah kota untuk memamerkan karya-karya kreatifnya dengan ukuran relatif mudah dicangking.

Apresiasi yang baik dari masyarakat seni di Johor Malaysia itu menumbuhkan peluang dan kesempatan menjalin hubungan kerjasama event seni rupa. Meskipun sebetulnya di Indonesia sendiri itu lebih potensial. Namun pengalaman Ambar ini justru menumbuhkan semangat unuk berkarya bagi seniman yang berada di sekitar kota Johor itu. Bahkan ada yang langsung berminat untuk pameran di sana.

Pameran yang dibuka oleh pemilik Senso Art Gallery, Chaterine Chai dihadiri kolekor dan seniman juga oleh Konsulat General Repulik Indonesia di Johor.

 

 

Ambarrium

Ambarrium itu sejenis Laboratorium Seni Rupa yang bisa dipacking dan dibawa ke mana-mana bersama pemiliknya, seperti halnya Laboratorium Seni Rupa Ambar Pranasmara. Dengan Laboratorium itu dapat leluasa berkarya dimanapun, sehingga menghasilkan gagasan dan tema sesuai dengan situasi serta kondisinya. Terbukti semua karya yang ditampilkan dalam pameran di Senso Art Gallery Cafe ini hasil kerja dalam waktu senggang pada istirahat setelah bekerja di kota itu.

Bukan hasil karya yang meniru karya orang lain namun karya yang mengekspresikan sebuah fantasi, harapan dan doa, ketika sedang bekerja, ketika jalan-jalan melihat pemandangan kota, pantai, dan pegunungan menakjubkan di negeri Jiran itu. Dia berusaha mengekspresikan doa-doa dengan melukiskannya pada lembaran kertas. Dalam setiap doa itu ada harapan dan cita-cita. Seperti usaha spiritual memvisualisasikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.Sehingga apapun yang tampak dalam karyanya merupakan keindahan dari kesederhanaan setiap doa, harapan dan cita-cita itu. Sementara doa, harapan dan cita-cita itu sendiri adalah keindahan yang hanya dapat dibayangkan dan dirasakannya.

 

Ambar Membawa Tradisi Petani Jawa

Seperti halnya para petani di Jawa, Ambar Pranasmara kelahiran Yogyakarta 1972 yang memiliki latar pendidikan seni lukis pada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta dan seni patung di ISI Yogyakarta, hal utama baginya adalah kerja dan lebih utama itu berkarya. Demikian pula dengan petani di Jawa, selain mereka bercocok tanam, mereka juga biasanya membuat karya kerajinan, kerja bangunan atau berkesenian lainnya. Sementara Ambar karier pekerjaannya dibidang pembuatan patung monumen, relief, mural, juga mengerjakan artistik film, clip musik, dan tvc.

Dia juga dibesarkan dikeluarga seniman. Kreatifitas tanpa batas, dimana pun dapat berkarya sebagai ungkapan rasa syukur untuk mendekatkan diri pada sang maha pencipta, atau ungkapan kegalauan, instropeksi, koreksi, doa dan harapan. Hal ini dilakukan usai menunaikan kerja utama, berkarya sebagai obat penawar kelelahan fisik. Berkarya seni seperti menetralisir dan memfokuskan lagi pikiran, karena semua itu akan kembali pada yang maha mengaturnya. Itulah inti dari karya-karya yang dipamerkan Ambar Pranasmara bertajuk Pray, Hope and Dreams.

Pameran tersebut upaya mengenali barang-barang pribadi dan kenangan-kenangan yang memiliki hubungan emosional lebih intens dengan senimannya Ambar menampilkan karya seni dari karier pekerjaannya. Barang-barang yang dipresentasikannya merupakan karya duplikasi dari produk seni pada jaman dulu kala abad VI masehi, kini keberadaan benda tersebut di museum luar negeri.

Pada mulanya benda seni tersebut memenuhi kebutuhan artistik untuk shooting film. Benda ini memiliki kenangan yang berhubungan dengan profesinya sebagai seniman patung juga artistik film yang dilakoni semenjak mahasiswa. Benda duplikasi itu menjadi koleksinya sebagai penanda capaian artistik pada filmnya.

Antara kerja yang utama dan kerja yang lebih utama itu saling mendukung dalam kehidupan bermasyarakat. Atas hasil karya dan hasil kerja itu menciptakan dialog dengan dirinya sendiri, dialog dengan keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Dalam setiap dialog itu ada doa, harapan dan cita-cita. *)
Yogyakarta, 29 September 2018

Jajang R Kawentar penulis Art Critique Forum Yogyakarta

Pesan Berhentinya Perang di Bandung Connex Art Month 2018

Oleh Jajang R Kawentar

‘Studioku di Galerimu’ itulah tajuk Proyek Seni Iwan Ismael di Galeri Depan, Rumah Proses, jalan Mutumanikam 47. Buahbatu, Bandung yang dibuka pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 pukul 19.30 WIB dan berlangsung sampai tanggal 9 September 2018. Menawarkan kehidupan pigur masyarakat urban jaman sekarang di negeri ini, serta tokoh fenomenal dengan teknik stencil. Selain karya stencil, menghasirkan Tungku Bromvit serta perlengkapan memasak kopi yang selalu dibawa ketika bekerja di luar kota dan menandai dibeberapa titik dinding kota itu.

Proyek seni Iwan Ismael memberikan pesan bahwa perang telah berakhir. Pesan itu dititipkannya melalui karya yang mengambil pigur presiden Korea Utara dan Korea Selatan yang notabene berbeda pandangan politik dan ideologi sepakat berdamai, bersalaman mengakhiri perang. Karya setinggi 5 meter, lebar 3 meter diposisikan sebagai pintu gerbang. Mengisyaratkan kita memasuki wilayah perdamaian: tanda cinta kasih antar sesama bersemi, rasa kasih sayang dimuliakan.

Moment bersalaman pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Korea Selatan, Moon Jae-in pada pertemuan Konsprensi Tingkat Tinggi (KTT) setelah mereka bermusuhan 65 tahun, resmi menyatakan berakhirnya perang dan era baru perdamaian dimulai. Moment ini seolah meruntuhkan kekuasaan yang arogan, dan memberi pengertian bahwa menciptakan perdamaian untuk mencapai kesejahteraan, serta keutuhan bangsa tidak perlu dengan kekerasan apalagi senjata.

Sikap yang ditunjukkan oleh kedua pemimpin Korea itu, tentunya dapat menjadi tauladan bagi para pemimpin rumah tangga yang menjadi pemimpin pemerintahan, guru, pemimpin organisasi dan pemimpin masyarakat. Menciptakan perdamaian itu tidak mudah kalau tidak ada keinginan mewujudkannya.

Kita juga diajak melihat berbagai peran dan pigur dari bangsa sendiri dalam realitas hidup seperti diwakilkan pada puluhan pigur masyarakat urban yang dipertemuakan dalam satu ruang pamer. Ekspresi dan karakternya menampakan heroisme perjuangan mempertahankan dan mempertaruhkan hidup berbangsa bernegara, serta bermasyarakat. Begitupun kopi serta perlengkapan memasaknya sekaligus penyeduhnya yang turut dihadirkan, menjadi media penghantar mencairkan suasana merenggangkan ketegangan, dan siapapun menginginkan damai.

 

Proyek Seni Jaringan

Kejelian Rudi ST Darma pemilik Rumah Proses mengkoneksikan Iwan Ismael dengan Bandung Connex Art Mont Juli-Agustus 2018 sehingga beberapa kota dan orang-orang yang terlibat proyek seni ini seperti tombol listrik, ketika tombol dinyalakan maka semua jaringannya terhubung.

Lebih dari 50 stencil karya Iwan Ismael yang lengket di dinding-dinding dibeberapa kota Indonesia sebut saja Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Tegal, Bali, dipertemukan dalam sebuah ruang Galeri Depan, Rumah Proses dengan berbagai ukuran. Dirancang seperti ruang perdamaian dengan kopi pemantik dialog, itulah kondisi studio Iwan di galeri Rudi.

Dalam mempresentasikan karyanya, Iwan menyemprot ulang karya stencilnya di sekeliling dinding Galeri dengan mengunakan warna hitam dan abu-abu. Dia memperlakukan karyanya sama seperti ketika menandai dinding dibeberapa titik kota, menjadikan dinding galeri banyak bercerita mengenai kehadiran pigur masyarakat urban dan dinding itu menjadi sangat berharga. Sebagaian karya ditempatkan disepuluh neon box ukuran 40cm x 60cm x 5cm.

Karya-karya yang melekat di dinding galeri mengkoneksikan antar dinding-dinding kota yang ditandai karya stencilnya. Sehingga proyek seni Iwan tidak hanya berusaha mengkoneksikan kesenian, dan seniman yang ada di Bandung, namun dengan pameran ini Iwan berhasil mengkoneksikan beberapa kota di negeri ini melalui karya stencilnya dan orang-orang yang terlibat.

Tidak ada penempatan lighting secara khusus pada ruang pamer tersebut, cukup dengan sepuluh neon box yang sekaligus bagian dari karyanya. Penonton dapat merasakan suasana damai dari teriakan-teriakan keresahan pigur-pigur karya stencil yang berperan mewakili profesinya di masyarakat.

 

Figur Iwan ismael

Iwan ismael kelahiran Medan Juni 1966 kali pertama pameran tunggal karya stencil, dari ratusan karya yang telah dibuatnya. Dalam kurun waktu empat tahun secara intens mengerjakan stencilnya. Di sela-sela waktu kerja ia mengumpulkan ampas kopi dan mengkereasikan tungku yang berbahan bakar briket dari ampas kopi.
Sementara pigur-pigur yang menjadi objek stencil memiliki hubungan secara emosional, tidak serta merta objek yang dijadikan stencil menjadi karya yang bisa dipresentasikan. Pigur-pigur itu pernah bertemu dan berdialog. Mereka masyarakat biasa bukan orang-orang terkenal. Seperti tukang las, tukang sampah, anak-anak kampung, polisi, tukang parkir, seniman, dan ada beberapa pigur tokoh yang monumental serta pigur idola masyarakat. Namun yang tidak kalah menariknya adalah riwayat dari pigur-pigurnya dan proses pertemuannya hingga menjadi karya stencil, itu hanya milik senimannya.

Peristiwa yang dialami pigur-pigur dalam karya stencil dengan proses memasak kopi, dialog antar pengunjung pameran dan penyeduh kopi seperti sebuah drama yang selalu berubah topik pembicaraan, berbagai ekspresi, polemik dan klimaksnya. Namun semua berada dalam koridor perdamaian yang sejuk, demokratis dan menyenangkan. Seperti menikmati pahitnya kopi dan manisnya gula.

Melihat pigur Najwa Sihab stencilan yang disemprot warna abu-abu di dinding dipojok ruang seperti sedang mewawancarai semua pigur yang hadir dan mendengarkan pembicaraan para pengunjung pameran. ‘Studioku di Galerimu’ adalah ruang belajar bagaimana berbagai masalah sosial diselesaikan dengan azas kerukunan dan gotong royong mencapai mufakat, didialogkan dalam sebuah forum seperti cita-cita para pendiri negeri ini.
Semua patut bicara berbagai masalahnya, menghargainya, mencarikan solusinya, menghantarkan pada perdamaian dan kesejahteraan bersama. Begitulah yang selayaknya dibangun cita-cita luhur bersama dalam perdamaian abadi.
Tasikmalaya, 1 September 2018

Jajang R Kawentar penulis Art Critique Forum Yogyakarta

What’s Else Could We Think About? Bon Apetite

Abdi Setiawan: What else could we think About? Bon Appetit

Oleh Jajang R Kawentar

What else could we think About? Boun Appetit’, Abdi Setiawan bercanda di Museum Oei Hong Djien (OHD) pada ulang tahun ke 20 Museum tersebut, Magelang, 20 Mei 2017. Seperti opera sabun yang menghadirkan dramatikal pada ruang makan. Saya gagal faham apakah karya patung yang terbuat dari kayu jati itu displaynya pada  ruang makan VIP terkini atau warung angkringan, tempat seniman nongkrong dengan property meja dan kursi klasik?

Apalagi yang kita pikirkan? Silahkan makan, begitu terjemaahan bebas dari judul karya perjamuan makan karya Abdi Setiawan. Sengaja atau kebetulan, adegan dan situasi ini merupakan drama satire. Semacam potret pertemuan tertutup para pengusaha, para pejabat, para penguasa, para pemimpin partai, para preman atau para konglomerat. Atau mereka yang tergabung semuanya itu. Pertemuan seperti ini sudah umum dalam pengambilan keputusan yang tidak umum.

Menurut saya kali ini Abdi Setiawan cukup signifikan pembaharuannya, dari humor yang kocak, selenge-an, urakan, seperti lonte, tante girang, masyarakat urban, kini menjurus humor yang formal dan menendang gunungan es. Mungkin dia telah menyelesaikan membaca buku Madilog (Matrialisme, Dialektika dan Logika) karya Tan Malaka moyangnya dia dari Minang, atau mendapat siraman rohani dan rohana mengenai strategi kekuasaan dan globalisasi ekonomi, sehingga ada sengatan berbeda dalam tema karyanya. Mungkin juga faktor usia yang semakin matang, dan condong perbaikan religiusitasnya.

Sepertinya karya ini mengungkapkan sebuah gagasan dimana peralihan objek yang akan digarap Abdi Setiawan ke depan. Dia mempersiapkan beberapa seri karyanya tentang Landscape. Dengan cara dia menghidangkan sajiannya berupa Landscape disebuah acara jamuan makan, seolah dia sedang menawarkan sebuah gagasan atau new taste yang layak dikonsumsi. Tentu ini bukan masakan Minang yang terkenal seperti rendang. Bisa jadi ini masakan sejenis rendang, yang selalu menjadi favorit dalam sebuah sajian makan. Apakah demikian yang dimaksudkan Abdi Setiawan?

Belum tentu, karena bisa saja karya ini menyampaikan gagasan kerakusan dan gawat daruratnya situasi dimana bumi ini dipijak. Bagaimana kekuasaan dan kekayaan alam hanya milik sebagian orang yang berada dalam lingkaran meja. Mereka seperti  sedang membagi wilayah kue dan menyantapnya dengan tamak. Tidak lagi layak seperti dipandang manusia, tetapi rakus dan jahatnya manusia melampaui binatang.

Abdi Setiawan mengibaratkannya manusia berwajah Gorila, di kepalanya tumbuh batang dan ranting menjulang ke langit. Penekanan terhadap kerakusan dan kejahatan itu tumbuh menjalar dan dapat menciptakan kehidupan lain dalam gagasannya. Wilayah kue dibuat landscape dengan peta rencana “pembangunan”, dibalik itu sesungguhnya akan terjadi eksploitasi dan eksplorasi pengrusakan keseimbangan alam.

 

Otokritik

Hanya dalam satu hari, orang Indonesia terkaya bisa mendapatkan bunga deposito dari kekayaannya, lebih dari seribu kali daripada dana yang dihabiskan penduduk Indonesia termiskin untuk kebutuhan dasar sepanjang tahun. Jumlah uang yang diperoleh setiap tahun dari kekayaan itu bahkan akan cukup untuk mengangkat lebih dari 20 juta orang Indonesia keluar dari jurang kemiskinan, demikian Oxfam melaporkan.

Laporan itu seperti Landscape yang dihidangkan di meja makan, menjelaskan kekuasan wilayah dibicarakan dan diatur oleh mereka yang dapat menduduki kursi di lingkaran meja tersebut.  Bagaimana nasib mereka yang justru berada dalam landscape?  itu bagian yang dimaksud dari rencana stategi mereka. Strategi mereka termasuk dalam rencana strategi sang kreator. Begitupun dengan karya patung yang dibuat dari kayu jati berumur ratusan tahun, bukankah bagian dari sebuah rencana eksplorasi dan eksploitasi alam?

Ini merupakan otokritik. Telunjuk mengarah ke sasaran satu, mengarah ke diri sendiri lebih dari satu, bisa dua tiga sekaligus.

Satu kursi yang sengaja kosong itu  seperti sedang menanti tuannya. Abdi Setiawan  membuat kursi bagian dari karyanya. Kursi kosong memunculkan pertanyaan, siapakah pemilik kursi itu?  Apakah pengunjung yang sengaja duduk, selfie atau Abdi Setiawan sendiri?

Begitulah seniman memiliki rasa humor, terkadang selengean, karakter yang melekat turunan kampus Gampingan. Sebuah tanda seniman masih tetap berfikir waras dan menjaga tetap waras: mana yang benar atau salah; mana yang baik atau keliru. Mengenal dirinya sendiri dan memahami prilaku yang aneh terjadi dalam dirinya,  dia berusaha menjaga jarak dengan prilaku yang keliru.

Penyadaran atau kesadaran dalam kekeliruan bila menyampaikannya dengan bahasa humor,  tidak terasa menyinggung perasaan pelaku prilaku keliru. Namun akan menganggap itu hanya lelucon biasa, siapapun dapat terjerat prilaku keliru. Manusia bukan malaikat yang selamanya baik dan benar. Manusia kadang sholeh, kadang bejad.*) –Art08 Keloran, Juni 2017

Jajang R Kawentar penulis Art Critique Forum Yogyakarta

 

 

 

MERAYAKAN HARI SENI MENGGAMBAR INDONESIA

Forum Drawing Indonesia (FDI) menggagas hari seni Drawing atau hari seni Menggambar pada 2 Mei 2018 di Kersan Art Foundation, di Jalan Samawaat no. 154, Desa Kersan Tirtonimolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta, dengan menggelar Pameran Seni Drawing yang bertemakan KEYDRAW KEYWORD.

Koordinator kegiatan Edo Pop perupa kelahiran Palembang Sumatera Selatan ini mengatakan (Senin, 23/4) bahwa Pameran KEYDRAW KEYWORD sebagai pembuka pintu bagi perupa yang beraktifitas di seni drawing dan mereka yang memiliki ketertarikan pada drawing. Selain itu punya keinginan mengumpulkan seluruh pendrawing di Indonesia.

Menurutnya bahwa ada berbagai faham drawing yang akan mewarnai keberagaman drawing sebagai kekayaan Indonesia. Oleh karenanya tercetus rancangan membuat Forum Drawing Indonesia dan sebagai momentumnya menggelar pameran drawing pada Rabu, 2 Mei 2018 di Kersan Art Foundation Yogyakarta dan sekaligus mencanangkan sebagai hari seni Drawing bagi Indonesia. Selain itu esoknya Kamis, 3 Mei 2018 ada acara diskusi yang mengambil bahasan Membaca Drawing.

“Forum Drawing Indonesia sebuah wadah yang terbuka bagi siapapun ingin terlibat dalam percaturan Drawing Indonesia. Untuk itu kita mengajak untuk sama-sama merayakan seni Drawing Indonesia pada 2 Mei 2018. Sebagai langkah awal dari kebersamaan itu kita tujuh belas perupa dari beberapa daerah, Abdullah Ibnu Thalhah (Semarang), Anis Kurniasih (Solo), Eduard ‘Edo Pop’, Hayatuddin, Joko Gundul, Riki Antoni (Yogyakarta), Dhanoe, Jopram, Mufi Mubaroch (Surabaya), Kris Dologh (Lamongan), Wahyu Nugroho, Garis Edelweiss (Pasuruan), Desy Gitary, Lenny Ratnasari, Mellisa Jayatri (Jakarta), Nandanggawe, Iwan Ismail (Bandung), dan plus kurator Jajang R Kawentar (Tasikmalaya) bersepakat menandainya dengan memamerkan karya Drawing.” Ungkap Edo Pop

Sementara Kurator pameran KEYDRAW KEYWORD, Jajang R Kawentar yang mengaku bukan kurator tapi Kurapreeet menjelaskan bahwa pada pameran Drawing kali ini cukup menandai sejauhmana perkembangan dan pemahaman perupa drawing yang terdapat di beberapa wilayah Jawa, meskipun mereka berasal dari pulau Jawa dan Sumatera.

“Keydraw Keyword itu Keydraw dibahasa Indonesiakan artinya Gambar Kunci dan Keyword artinya Kata Kunci. Kata kuncinya itu berkumpulnya seniman gambar. Gambar kuncinya mengolah goresan. Tapi bisa saja pengertiannya menjadi sempit ‘kata kunci’ hanya kunci sebagai kata benda, begitupun dengan ‘gambar kunci’ yang menunjukkan bentuk benda berwujud kunci. Namun tidak demikian halnya harapan dari ‘kata kunci’ dan ‘gambar kunci’ itu terbuka bagi siapapun yang memaknainya. Seperti dilakukan setiap individu seniman memaknai aktifitasnya mengolah goresan menjadi Drawing,” jelasnya, (25/4) saat ditemui di Kersan Art Foundation.

 

Untuk menegaskan bagaimana perkembangan drawing menurut Jajang R Kawentar bahwa, “Forum Drawing Indonesia ini sudah cukup mewakili dari perupa Drawing. Ke tujuh belas perupa drawing yang terlibat ini cukup berdedikasi tinggi. Hasrat menggambar mereka atau menggambar hasratnya saling berpaut. Apapun yang terjadi pada karyanya itulah kenyataan terkini seni drawing. Terkini dari segala sesuatu yang melingkupi seniman, terikini dari pilihan karya-karya drawing yang ada, dan terkini yang dapat dijadikan cermin bagi para pecinta seni atau masyarakat. Kita sebatas apa yang sedang dihadapi dan di luar sana itu tidak jauh beda,” ungkapnya.

 

Dengan terbentuknya Forum Drawing Indonesia dan pencanangan hari seni Drawing atau hari seni Menggambar akan lebih menggali lagi perkembangan seni di Indonesia dan mewarnai khasanah seni rupa dunia. Bagaimanapun sesuatu yang baik dirayakan dan didukung bersama-sama. Pada setiap 2 Mei sebagai hari seni Menggambar*)

 

 

 

Antara Personal Effect dan Social Effect

Antara Personal Effect dan Social Effect

 

Oleh : AA Nurjaman

 

Makalah ini pada awalnya merupakan makalah diskusi pameran Personal Effect di galeri Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Berdasarkan pertimbangan atas perkembangan karya-karya seni rupa dan wacananya  yang semakin hari kian carut-marut, maka saya menerbitkan makalah ini yang bisa dibaca oleh siapa saja. Barangkali ada manfaatnya.

Menelaah karya-karya yang dipamerkan dalam pameran Seni Preeet II: Personal Effect pada 14 Maret-2 April 2018 di galeri Tembi Rumah Budaya, saya menangkap suatu kecenderungan yang terjadi dalam dunia estetika semenjak tahun 1970-an hingga dewasa ini. Sejumlah senimannya, Deden FG, Dadang Imawan, Mami Kato, Riki Antoni, Dadah Subagja, Sukri Budi Dharma, Ahmad Arif Affandi, Ratih Alsaira, Paul Agustian, Ramdani, Ambar Pranasmara yang dikuratori Jajang R Kawentar, sepertinya hendak melakukan perombakan terhadap perkembangan arus art now dewasa ini.

Pada mulanya karya seni dibagi dua, yakni seni rendah dan seni tinggi. Seni rendah tidak lain, apa yang disebut sebagai karya kerajinan tangan dengan penekanan kepada fungsi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari yang terdiri dari berbagai jenis barang berbahan dasar alami seperti anyaman bambu, mebel kayu, gerabah dan terakota yang berfungsi sebagai perabotan rumah tangga yang diberi sentuhan nilai-nilai keindahan dari segi bentuk maupun ornamen kedaerahan. Sedangkan seni tinggi adalah benda-benda fungsional di kalangan kaum bangsawan yang menekankan keindahan berupa nilai-nilai simbolisme spiritual seperti kain batik, kain tenun, keris, kereta kencana, mahkota dan perlengkapan upacara.

Pada perkembangan seni modern karya-karya seni kraton menjadi seni rendah karena dikembangkan oleh kasta terendah yaitu rakyat jelata, seni keraton menjadi seni tradisional.  Sementara seni tinggi berupa karya-karya yang dibawa kaum kolonial Eropa, seperti lukisan, patung, grafis, drawing, yang dipercaya mampu mewujudkan bahasa jiwa dari senimannya. Di sini terlihat bahwa visi-misi seni modern adalah menggerus kekuatan seni tradisi yang menekankan kosepsi simbolisme spiritual dan hendak menggantinya dengan konsepsi personal.

Kemudian pada awal tahun 1990an di Bandung, Jakarta, Jogjakarta dan Bali khususnya terjadi perubahan paradigma dari seni modern ke arah seni kontemporer sebagai akibat berkembangnya pop art. Seni kontemporer bercirikan menghilangnya batasan-batasan jenis karya seni, seperti lukisan, patung, grafis, kriya, desain produk dan lain sebagainya. Masa ini, karya seni adalah suatu karya apapun bentuknya, yang mampu dipajang di ruang pameran, apakah itu galeri, museum, atau ruang seni lainnya dengan mengandalkan kekuatan konseptual. Perkembangan seni kontemporer sebagai akibat mulai berperannya sistem kuratorial dalam berbagai pameran seni rupa yang menggeser paradigma pemahaman karya dari bahasa artistik ke bahasa konseptual. Lahirnya konseptual karya ini, telah menggeser kedudukan para kritikus dan penulis seni menjadi kurator yang bertugas untuk membangun berbagai projek kompromi dengan pedagang karya seni dalam mengembangkan pasar seni dengan dalih bisa menjadi komoditas penting dalam perekonomian negara. Maka bermunculanlah berbagai pameran seni rupa yang menawarkan wacana konseptual berbeda dengan wacana seni modern.

Pergeseran paradigma seni juga telah melahirkan perubahan yang signifkan terhadap sistem publikasi seni. Di era puncak seni modern sekitar tahun 1960-an hingga 1980-an, setiap penyelenggaraan pameran seni rupa, biasanya hanya memajang karya yang kemudian diapresiasi masyarakat, dicermati oleh para kritikus seni sehingga tersebar berita dan wacananya di beberapa media massa. Karya seni menjadi eksklusif dan agung.

Ketika kurator mulai berperan dalam membangun wacana seni rupa sekitar pertengahan tahun 1990-an hingga sekarang, pameran-pameran seni rupa menyertakan katalog dalam berbagai format yang memuat wacana kuratorial yang ditawarkan kepada pemirsa. Hal ini terjadi karena turut sertanya peran para pemodal yang tidak hanya bertindak sebagai sponsor tetapi berperan dalam membangun sistem manajemen seni guna mensukseskan acara berbagai pameran seni rupa.

Pada akhir tahun 1990-an, beberapa galeri mulai mengadakan kerja sama dengan pihak seniman dengan memenuhi segala keperluan pameran, termasuk undangan kepada para pembeli, dan hasilnya, luar biasa. Karya seni, terutama lukisan, pada akhirnya menjadi barang komoditas pasar seni yang membabad habis seni tradisi.

Di awal tahun 2000, segelintir orang kaya yang menamakan dirinya pecinta seni telah berhasil membangun bermacam ruang perhelatan seni rupa, seperti galeri, art space, art house, art fair dan balai lelang. Di antara mereka ada yang melakukan penggorengan karya seni, yaitu membeli sejumlah lukisan dari beberapa seniman yang bersedia bekerja sama, memajang karya-karya lukisan pada perhlatan art fair dan balai lelang. Karya-karya pelukis gorengan yang terpajang itu kemudian dibeli oleh rekan-rekan bisnisnya dengan harga yang fantastis, maka mulai bermunculanlah seniman-seniman papan atas baru. Para seniman papan atas baru ini bukan dibentuk oleh proses perjalanan mereka dalam berkesenian, tetapi dibangun oleh spekulasi pasar.

Pertengahan tahun 2000-an, muncul sistem kontrak kerja antara pedagang karya seni dengan seniman. Kontrak kerja itu ditandai oleh penghasilan seniman yang sepuluh kali lipat dengan penghasilan pegawai negri papan atas, maka merebaklah sistem artisan. Periode ini ditandai oleh para seniman yang memiliki kemampuan berbicara, pandai bergaul dan pandai menyusun konsepsi karya yang mampu mengelabui para pedagang lukisan. Merekalah yang berjaya menjadi seniman papan atas. Sementara seniman yang memiliki kemampuan berkarya, tetapi kurang mampu mengutarakan konsepsi pemikirannya harus puas dengan menjadi artisan, yang bayarannya tidak lebih dari harga tukang batu. Maka terjadilah boming lukisan. Berbagai perhelatan seni rupa diselenggarakan dengan kemewahan yang luar biasa. Berbagai tema wacana bermunculan, sementara karya-karya yang terpajang hanya yang begitu-begitu saja. Wacana seni yang melibatkan para pemikir seni, tak ubahnya dengan basa-basi. Dan ini dimaklumi semua pihak. Cilakanya, perkembangan wacana ini hingga kini bahkan menjadi titik awal perkembangan ilmu estetika baru. Estetika seni rupa gorengan kontemporer.

Personal Effect

Barangkali perubahan paradigma inilah yang dilihat oleh Jajang R Kawentar dan sejumlah perupa yang tergabung dalam projek Seni Preeet, mereka melakukan reaksi terhadap kesewenangan pasar seni. Untuk mengadakan perombakan dibidang seni rupa, mereka menyusun sejumlah pameran Seni Preeet. Pada pameran perdananya, Jajang bersama para perupanya mencoba menawarkan pengayaan gagasan gagasan yang tertuang dalam berbagai karya berupa lukisan, sketsa, drawing dan instalasi yang didisplay pada pameran So go on Person di galeri SMSR Jogjakarta. Sedangkan pada pameran keduanya di galeri Tembi Rumah Budaya, Jajang menawarkan gagasan yang berasal dari memoar sehari-hari para seniman. Karya yang dihasilkan berupa berbagai benda pakai dan benda mainan yang dimodifikasi oleh para senimannya kemudian didisplay menjadi sebuah pameran Seni Preeet dengan judul Personal Effect.

Pameran Personal Effect digagas Jajang R Kawentar untuk mengejawantahkan pengaruh pribadi seniman terhadap karyanya. Melalui modifikasi terhadap barang-barang milik seniman, hemat saya, pameran ini adalah sebuah penentangan terhadap arus pasar karya seni global yang memang sudah tak terkendali dalam menghalalkan segala cara. Penentangan ini bukanlah hal baru yang dilakukan banyak seniman Indonesia. GSRB dan Pasar Raya Dunia Fantasi telah melakukannya antara 40-30 tahun yang lalu, tetapi tidak mampu menggeser paradigma seni rupa yang telah menjadi arus pasar dunia.

Personal Effect atau Social Effect

Melihat karya-karya yang terpajang dalam pameran ini, terdapat hal yang perlu kita cermati karena terlepas dari pertimbangan Jajang R Kawentar sebagai kurator. Dalam ranah seni, istilah personal, hemat saya, suatu bahasa pribadi yang berpengaruh terhadap karya-karyanya. Karakter personal biasanya mengunakan material yang sangat pribadi, kayu, batu, tanah, kain, logam dan lain-lain, atau barang-barang tepat guna yang tergolong seni rendah yang juga sangat pribadi, seperti baju, celana, piring, gelas, sisir, dompet dan lain sebagainya. Menurut gagasan Jajang, barang-barang fungsional ini kemudian dimodifikasi sesuai dengan estetika senimannya sehingga terwujudlah karya seni tinggi yang sesuai dengan konsepsi gagasan personal effect.

Tetapi dalam pameran ini, saya melihat sebuah sepeda motor utuh yang dipamerkan, sejumlah kaset, sebuah handphone (HP) yang diaplikasikan dengan kayu yang dilukisi dan sebuah pintu penjara. Dalam estetika seni kontemporer barang-barang multi media seperti sepeda motor, mobil, televisi, komputer, HP dan sejenisnya adalah benda-benda yang biasa digunakan untuk mengumpamakan persoalan sosial. Maka di sini saya melihat campur aduk antara karakter personal effect dan social effect. Padahal secara judul dan konsepsi pameran, personal effect, yang berarti kondisi kejiwaan seniman yang berpenguruh terhadap karya-karyanya, hemat saya, sudah demikian ketat, tetapi kenapa ketika konsepsi ini  dijadikan frame kuratorial menjadi agak melar sehinggga dengan mudah menerima usulan dan karya dari pihak seniman yang kurang pas untuk didisplay dalam pameran.

Untuk menilik karya personal effect, hemat saya, kita bisa melihat karya seni instalasi jarum jahit karya Leny Ratnasari. Pada karya itu terlintas proses perjalanan jarum jahit yang diwujudkan dalam berbagai media: kayu, logam, polyester resin yang berhasil dipamerkan di sejumlah galeri di Jogjakarta, Jakarta, dan Singapura. Jarum jahit menurut Leny, cukup berperan dalam mewujudkan karya-karya boneka yang telah membawanya ke berbagai pameran besar di Berlin, London dan Amsterdam. Sedangkan untuk menilik karya-karya social effect kita bisa melihat karya-karya video art Krisna Murti dan instalasi low technology Heri Dono. Karya Krisna Murti menawarkan kompleksitas sosial urban, sementara karya Heri Dono menawarkan kompleksitas tradisi primitif kelokalan masyarakat Nusantara.

Memang beberapa perhelatan seni dunia, seperti Open Call di Citizen City Belgia, Art Bazel Switzerland, Beijing Bienalle dewasa ini mulai didominasi karya-karya multi dimensi yang disebut art now. Krisna Murti dan Heri Dono, di antara seniman Indonesia yang pernah terlibat dalam salah satu perhelatan seni terbesar dunia itu. Karya art now, tak lain adalah karya-karya yang menawarkan konsepsi sosial melalui metafor multi media dan new media. Di titik inilah, saya kira, sang kurator Jajang R Kawentar, mestinya menelaah secara seksama dalam menegaskan definisi istilah personal art dalam mengembangkannya menjadi Personal Effect, supaya karya-karya yang terlahir memiliki ciri khas yang jelas pijakannya. Karena jika tidak jelas pijakannya, karya-karya para seniman yang tergabung dalam Seni Preeet akan mudah tergerus oleh arus wacana seni global yang terbukti sudah mampu memporak-porandakan seni rupa kita.

 

Jogjakarta, 15 Maret 2018

 

 

AA Nurjaman  

Kurator seni rupa tinggal di Jogjakarta.

Dosa yang Indah Riki Antoni

oleh Jajang Kawentar
Penulis di Forum Kritik Seni, Artworker

 

Bagaimana  mungkin dosa dibentangkan menjadi lukisan atau lukisan sebagai dosa. Betapa indahnya dosa bila terbentang menjadi lukisan. Apa yang ada di benakmu lukisan dari sebuah dosa.

Bukankah proses para pendosa ketika berbuat dosa disusun menjadi garis dan warna, digojlog, diolah, diendapkan, dan disalurkan lewat rasa. Di sini seniman berperan sebagai pencatat peristiwa sekaligus bagian dari para pendosa itu.

Tidak hanya dosa yang tergambar, tetapi juga doa. Dosa-doa menjadi garis dan warna. Menjadi individu juga massal. Inilah keindahan Riki Antoni. Pelarian di antara dosa modernitas dan doa kaum romantis pada dunia pastoral. Dunia anak-anak, teks yang terabaikan dalam konteks yang dipenuhi ancaman dan politik bau comberan.

Apalah arti dari BacktoNatureGo GreenHumanisme, generasi yang hilang, semua merupakan tanda zaman. Ketika orang-orang ingin kembali mengalami masa kecilnya, masa lampau, masa terbentuknya sebuah kenangan.

Ketika orang kian memahami bagaimana kesehatan alami, orang terus merawat tubuhnya supaya awet muda, dan panjang umur. Namun kesadaran itu tidak diiringi dengan menyelamatkan lingkungannya, dan asupan konsumsinya serba instan, serba diawetkan.

Kalau demikian akan semakin berkurang orang-orang merayakan ulang tahun, dan semakin banyak orang-orang mengucapkan duka cita.

Antara sadar dan tidak, antara kehancuran dan harapan, antara hukum dan kebebasan, antara pengalaman dan realitas Riki Antoni membentang kisah. Ia mengisahkan masa lampau, kini dan masa depan. Ia meletakkan teks karyanya dalam struktur historis. Ia berkisah sekaligus bersiasat dengan umur dalam bingkai tradisi di tengah serbuan modernitas yang melapukkan banyak hal.

Tokoh dan Cerita yang Terus Hidup

Panjang umur itu tidak hanya sekedar gagasan, tapi gagasan itu membuat panjang umur. Gagasan Riki Antoni menciptakan garis, warna dan bentuk-bentuk tanda awet muda, romantis, natural, sedih dan bahagia tetap bersahaja, marah dan lucu tetap imut-imut innocent.

Pemandangan gagasan memanjangkan umur itu menyuguhkan rasa gemessegemes-gemesnya. Gemes melihat Riki Antoni dalam setiap garis dan warnanya. Warna-warna yang menyapa lembut, bersahabat, sejuk, dan garis yang membentuk objek seperti berdialognya cinta kasih.

Inilah yang dimaksud membebaskan diri dari belenggu modernitas, khususnya pasca-Perang Dunia I, era surealisme dimulai. Namun, Riki Antoni lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 1 Januari 1977 ini meletakkan surealisme itu pada adat istiadat dan tradisinya.

Menanam-tumbuhkan kembali, ingatan terhadap pemandangan alam pedesaan,  yang memesona, indah natural. Pemandangan itu juga menghidupkan ingatan masa lampau, keindahan alam dalam sebuah cerita. Imajinasi yang muncul berupa rasa cemas, kekhawatiran juga harapan, baik yang diciptakan sendiri atau muncul karena melihat ketegangan realitas sosial.

Ada kerinduan, kesejukan ketika diabadikan, ada keinginan melancong dan menjadi bagian dari tokoh atau figur dalam lukisan. Leher panjang, mata bundar besar memberi isyarat-isyarat, begitu banyak tanya tersimpan dan begitu lama menunggu jawaban-jawaban.

Begitu banyak janji, sekian lama pula menunggu ketidakpastian. Sesungguhnya jujur, keadilan, dan menepati janji menjadi langka dan mahal. Menjadi hal ang surealis, seperti juga kemustahilan.

Figur-figur berbentuk kartun yang mengisyaratkan hidup tidak ada matinya, menunjukkan harapan panjang umur. Hidup abadi atau Aku ingin hidup seribu tahun lagi, seperti kata Chairil Anwar dalam puisinya

#dokumenselasat