Pameran 80 nan Ampuh: Bentara Budaya Yogyakarta

Persembahan yang-Milineal Kepada yang-Kolonial

oleh WAHYUDIN

Hari ini, Jumat, 5 April 2019, kolektor Oei Hong Djien—yang masyhur di lidah penghayat senirupa dengan panggilan “Pak Dokter” atau “OHD”—berusia 80. Dalamumur yang mungkintakbisadicapaiolehkebanyakanorang di republik ini, OHD menjelma musyafirlata (flaneur) di dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Itu merupakan semacam amsal waktu luang pecinta senirupa masa kini yang tiada henti lalu-lalang dari satu pameran kepameran lainnya; dari satu art fair ke art fair lainnya; dari satu balai lelang kebalai lelang lainnya; dari satu museum ke museum lainnya; dari satu peristiwa senirupa ke peristiwa senirupa lainnya. Pun—ini keunggulan perbandingan OHD ketimbang kolektor lainnya di Tanah Air—dari satu studio perupake studio perupa lainnya—terutama studio perupa di Yogyakarta.

Di setiap waktu luang itu OHD merayakannya dengan antusiasme yang tak tertandingi kolektor lainnya.Dengan begitu, OHD pun menjelma sosok historis yang khas di dunia senirupa Indonesia, “yang mengisi waktu dengan kekuatan seperti baterai”—untuk memakai kalimat Susan Buck-Morss.

Dia seperti tak pernah merasa bosan—sangat mungkin karena dia tahu apa yang ditunggu. Dia hampir-hampir tak pernah merasa lelah barangkali karena dia tahu bagaimana mengelola tubuhnya dengan energi yang simpatik .Sebutlah itu cinta.Dan cintanya paling besar mengejawantah sebagai OHD Museum.

Di museum itu, selama lebih kurang 20 tahun terakhir, tersimpan ribuan karya senirupa Indonesia dari zaman kolonial sampai era milenial. Semuanya dipenuh-seluruhinya dalam suka dan duka perawatan, perhelatan, dan pemahaman, sehingga memungkinkannya terpandang sebagai yang kontemporer—yang kini-dan di sini—yang senantiasa berikhtiar merawat sesuatu yang baik dari masalalu dan mengambil sesuatu yang lebih baik dari masa kini.

Atas kemungkinan itulah kami—Museum dan Tanah Liat (MdTL) dan Sicincin Indonesia Contemporary Art (SICA)—menaja pameran di Bentara Budaya Yogyakarta (5-13 April) ini sebagai persembahan dan penghormatan untuk OHD: seorang kolektor berumur “Delapan Puluh” dengan cinta “nan Ampuh” kepada senirupa Indonesia.

Persembahan dan penghormatan itu menghablur sebagai momen historis sekaligus momen estetis dari daya cipta dua puluh perupa perempuan muda milenial ini:

Ajeng Pratiwi, Anis Kurniasih, Anjani Citra A, Aurora Santika, Deidra Mesayu, Dhiasasi Ulupi, Diana Puspita Putri, Dini Nur Aghnia, Elisa Faustina, Hanggita Dewi, Harindarvati, Ipeh Nur, Meliantha Muliawan, Melta Desyka, Mutiara Riswari, Novelia Hafidzoh, Rara Kuastra, Reza Prastisca Hasibuan, Triana Nurmaria, dan Rika Ayu.