Pameran bakaba #8

NOISE

8 Agustus 2022

Komplek Sarang Kalipakis
Tirtonirmolo, Kasihan , Bantul
Yogyakarta

Hakikat dari noise adalah mampu mengaburkan perihal utama. Walaupun yang membuat kabur tersebut akan mampu menjadi hal utama pula nantinya.

Art merupakan tradisi barat (Eropa Barat-Amerika), merupakan arus besar nan utama dalam art world. Sementara seni rupa Indonesia bermain di atas tradisi art, bermacam varian. Kata lainnya, seni rupa Indonesia bergumul di pinggir atau permukaan arus tersebut. Pergumulan inilah yang selama ini kita kritik, tampar, sekaligus diperjuangkan. Sesungguhnya, seni rupa Indonesia merupakan sebuah noise bagi perjalanan art.

Keadaan tersebut tak semata lantaran sumber daya manusia (seniman) tak kreatif dan inovatif, keberadaan seluruh okosistem seni rupa Indonesia tentu saja ikut serta memengaruhinya, juga Indonesia sebagai satu negara di tengah negara-negara lainnya.

  • Alam mengajarkan “Jangan menghadang dengan telapak tangan derasnya air terjun, jika tak ingin patah-patah dan hanyut, tapi jadikanlah itu sebagai tepian untuk setiap tubuhmu”. Artinya, sebuah usaha untuk menerima bukan sikap penolakan terhadap keadaan

Pameran 100 tahun Widayat

PADA 100 TAHUN WIDAYAT

oleh Wahyudin

Lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, 9 Maret 1919—pelukis Widayat berusia 100 tahun di tahun 2019 ini. Pada 22 Juni 2002, dia telah berkalang tanah. Sepanjang umurnya Widayat mengesankan sebagai juru ukur pegawai kehutanan dan juru gambar peta rel kereta api di Palembang; pimpinan Seksi Penerangan—dengan pangkat Letnan Satu—di Divisi Garuda Sumatra Selatan (1945-1947); pendiri Pelukis Indonesia Muda (PIM) bersama G. Sidharta, Murtihadi, Sayoga, dan Suhendra (Yogyakarta, 1954); Dosen seni rupa ASRI, pendiri dan pemilik Museum Haji Widayat di Mungkid, Magelang, Jawa Tengah (1994); Pelukis serbabisa; dan Maestro Seni Lukis Indonesia.Widayat meninggalkan dua warisan estetis yang paling dikenal dan dikenang penghayat seni rupa Indonesia— yaitu lukisan “Dekora Magis” dan “Greng”.

Yang pertama adalah karya seni rupa, benda budaya, dan obyek artistik yang memampukan Widayat terpandang sebagai salah satu pelukis Indonesia terkemuka pasca generasi Affandi, Hendra Gunawan, dan S. Sudjojono. Kedua adalah semacam kata kunci Widayat untuk mengidentifikasi dan/atau menilai lukisan. Seturut kata kunci itu, sebuah lukisan yang tersimpulkan baik-apik bila terdapat “Greng”.

Dalam kalimat penulis seni rupa Agus Dermawan T., “Greng” merupakan “istilah khas Widayat untuk menandai lukisan-lukisan yang memiliki optimasi ekspresi, teknik perwujudan, getaran, serta keluasan imajinasi dan fantasi.” Yang menarik, kata kunci ini justru populer melalui kolektor besar Oei Hong Djien (OHD). Sampai-sampai, bila tak senantiasa diluruskan OHD, banyak orang mengira kata kunci tersebut berasal dari atau kepunyaan pemilik OHD Museum, Magelang, itu. Dengan kedua warisan itu, nama Widayat tetap bertakhta di lidah dan hati penghayat seni rupa Indonesia, utamanya di Yogyakarta.

Pameran bertajuk “Greng” ini menggelar pusparagam karya seni rupa ciptaan 29 seni rupawan Yogyakarta. Pameran ini bertujuan mempresentasikan ikhtiar kreatif—pikiran, perasaan, dan tanggapan—perupa atas kedua warisan estetis Widayat tersebut . Secara praksis ke-29 perupa itu diundang untuk memamerkan karya-karya yang mereka anggap “greng” atau merupakan tafsir estetis mereka atas “Greng” atau “Decora Magis” atau riwayat kreatif Widayat.

Composition 6

Composition 6

M. Irfan,160 x 140 cm, Artemis, Acrylic on Canvas, 2016

Dwi Stya Acong

Garden Monet

Judul ; Garden Monet

Ukuran :  180 x 180 cm

Media : Oil on Canvas

Tahun : 2016

S. Dwi Stya Acong

karya surealism

Berbagi Rasa

Berbagi Rasa 

Zulfa Hendra, AoC, 80x160cm, 2014