Idealisme Super Penting, Pasar Membuat Realistis.

Kalau begitu, apa tugas seniman?

Urusan seniman berkarya. Yang lain urusan manajemen.

Oke. Apa arti pameran bagimu?

Pameran itu penting—tapi sejauh mana efek yang bisa dihasilkan(nya). Kenapa aku malas ikut pameran, karena aku harus melihat efeknya apa. Berefek nggak buat namaku. Aku kan individual—jadi harus berpikir “berguna nggak buat aku?” Kalau nggak berguna buat apa! Logikanya kayak gitu. Bukan hanya ikut pameran terus berkhayal jadi orang besar—nggak mau saya, saya harus tahu bermanfaat atau nggak.

Begitu ya?

Ya. (Lebih baik) satu kali pameran yang ngejreng ketimbang lima puluh kali (pameran) tapi nggak bergaung. (Padahal) gaung (itu) penting …

Baiklah. Di manakah letak nilai seorang seniman?

Tergantung cara melihatnya … Kreativitas. Soal siapa yang hebat, di atas, dan lain-lain—adalah sesuatu yang masih bisa diperdebatkan. Kreativitas adalah nilai sejati seorang perupa.

Termasuk punya idealisme, ya?

Harus ada kontrol. Harus ada balance kan. Idealisme penting. Super penting. (Tapi) pasar (yang) membuat (seniman) realistis.

(Sampai pada titik itu, Masriadi mengutip pernyataan Dewa Bujana, gitaris band Gigi, tentang logika terbalik di dunia industri rekaman musik Indonesia saat ini yang lebih mementingkan popularitas ketimbang kreativitas. “Kata Bujana, pemain-pemain musik sekarang pengennya terkenal dulu, baru kemudian belajar musik,” ujar Masriadi.

Itulah yang membuat rancu antara musisi yang pro[fesional] dan yang amatir. Kerancuan ini, menurut Masriadi, jangan sampai terjadi di dunia seni rupa. Sebab, bukan hanya keterampilan—alih-alih keterkenalan—yang penting, melainkan lebih dari itu adalah kreativitas seorang perupa.)

Oke. Karya seperti apa sih yang menarik di mata pasar?

Aku percaya, karya berkualitas pasti dihargai—meskipun bisa juga sekedar tren.

 

—Wahyudin As