PROKES

TEMA PAMERAN

PROKES

Satu setengah tahun sudah, wabah covid-19 yang melanda Indonesia dan penyebarannya harus segera diputus. Pemerintah kemudian menerapkan peraturan pelarangan mengadakan kegiatan yang menimbulkan keramaian, menjaga jarak, mencuci tangan, Segala aktifitas atau kegiatan yang mengundang orang banyak dilarang pemerintah, termasuk pameran seni rupa. Bekerja dari rumah (work from home), diberlakukan bagi aparatur sipil negara dan swasta. Bagi seniman sudah biasa bekerja dari rumah dan di studio mereka masing-masing. Namun pelarangan pameran membatasi ruang apresiasi secara tidak langsung berdampak pada perekonomian seniman. Beberapa artist dan art worker mulai mencari alternatif lain supaya dapur mereka tetap berasap. Istilah ‘Prokes’ (protokol kesehatan) mulai dikenal di seluruh Indonesia dan viral di dunia maya. Semua kegiatan harus memperhatikan prokes (5M); memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabung, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.

 

Kota Yogyakarta merupakan lingkungan kondusif untuk berkesenian, terutama seni rupa. Di sini, selain semangat berkompetisi rekan se-profesi takhentinya memberi spirit untuk membangkitkan gairah dalam melahirkan ide-ide yang brilian di atas kanvas dan media lain yang digandrung seniman. Hal itulah yang dirasakan setiap anggota Sakato Art Community. Atas nama individu maupun kelompok semangat kebersamaan dibangun di atas pondasi rasa senasib sepenanggungan, se-daerah, dan se-angkatan sewaktu menimba ilmu di perguruan tinggi seni di kota pelajar ini. Romantika dan nostalgia telah mengukir sejarah panjang pada diri masing-masing seniman. Apa pun realita hidup yang dihadapi saat ini, rasanya sulit melupakan masa lalu tersebut. Kuatnya rasa kebersamaan itu, hingga akhirnya terbersitlah gagasan untuk mendirikan organisasi dengan nama ‘SAKATO’ (se kata), cikal bakal berdirinya Sakato. Wadah yang diharapkan dapat menampung semua inspirasi anggotanya pada waktu itu. Di bawah payung organisasi diharapkan seniman Sakato dapat maju dan berkembang bersama. Semangat untuk selalu berjalan seiring diharapkan tidak akan pernah padam, karena ini adalah marwah dari oraganisasi ini dibentuk. Belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman dalam keluarga besar Sakato Art Community dapat mendorong untuk bekarya para anggotanya dan menghasilkan sesuatu pemikiran baru dalam seni rupa.

 

Kebersamaan tersebut semakin terasa ketika jauh dari kampung halaman. Hal ini menimbulkan hubungan erat antar anggota. Kesatuan dan keutuhan mereka rasakan bersama, hal ini mempu menekan ego masing-masing dalam interaksi hubungan sosial di perantauan. Teman menjadi semangat, teman juga sebagai tempat curhat. Bagi mereka yang kebetulan sudah mapan dalam finansial menjadi tempat bersandar bagi mereka yang masih berproses menuju kehidupan yang sejahtera. Sebaliknya, Ide pada sebuah karya besar dari mereka yang telah mendapatkan posisi, bisa saja lahir dari hal remeh yang hadapinya di dalam kelompok.

 

Kali ini SAKATO mengambil tema Pameran PROKES merupakan salah satu agenda yang mengawali kegiatan Sakato seiring berkurangnya wabah covid 19 secara  significant di Kota Yogyakarta. Moment ini sekaligus memperkenalkan ke publik kesekretariatan Sakato yang baru. Sekretariat lama di Kalipakis khusus sebagai ruang pameran dan pemajangan.  Pameran ini diusung komunitas seni rupa dari Etnis Minangkabau yang berdomisili di kota Yogyakarta. Tema PROKES sebagai pembuktian bahwa seniman tetap memilih seni rupa sebagai jalan hidupnya dan ia tetap berada di jalur berkesenian apapun kenda yang dihadapi. Profesi yang memerdekakan rasa mereka dalam seni visual. Seniman zaman now tak dapat berdiri sendiri, sebagai makhluk homo sapiens, seniman merupakan spesies yang sangat tangguh dalam beradaptasi dengan lingkungannya, hubungan timbal balik kepentingan dengan manusia lain selalu ada. Dalam ilmu sosiologi makhluk sosial merupakan sebuah konsep ideologis yang di dalamnya komunitas menjadi bagian dari struktur sosial yang dipandang sebagai struktur yang hidup dan berkembang.

 

Di dalam tubuh sakato dibangun sikap kritis sebagai satu keutuhan yang mengakomodasi banyak kepentingan individu. Sakato sebagai komunitas seni selalu kritis (critical) membaca situasi, untuk tidak mudah berpuas diri dengan apa yang ada. Hal tersulit untuk melihat kedalam karya sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Sikap kritis ini dibutuhkan mereka untuk melahirkan karya-karya baru dan menjawab persoalan pokok (content) selaras dengan arah berkeseniannya. Budaya kritik juga diartikan sebagai upaya sadar untuk melihat dan menyadari kekurangan dan mengerti apa yang akan diperbuat selanjutnya hal ini menjadi mudah ketika dibawa ke forum diskusi internal di sakato.

 

Sakato mengutamakan komunikasi (communication) merupakan bahasa yang di dalamnya terdapat maksud yang  melibatkan pembuat dan penerima pesan. Seniman-seniman sakato dalam proses berkeseniannya selalu terkoneksi dengan media konvensional atau digital. Berkolaborasi dengan komunitas lain dalam ruang lingkup Yogyakarta, nasional dan Internasional. Bersinergi dengan bidang lain di luar seni, berkolaborasi dengan seniman  di luar sakato. Kesamaan kultur, sifat, atau keadaan yang mempererat kesatuan dan keutuhan Sakato Art Comunity ini. Selalu mempertahankan sikap baik dan kejujuran, sebagai wujud keutuhan prinsip moral dan etika kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Akhir kata, berkesenian bagi anggota sakato adalah bukti sebuah integritas, ungkapan rasa penuh kejujuran dan ketulusan. Karya sebuah pencapaian, bahkan wahana untuk merefleksikan dirinya terhadap situasi dan kondisi yang ada. Melalui pameran ini diharapkan anggota SAKATO tetap pada komitmen PRO KESenian.

 

 

Pengurus