Pesan Baru Akhir Tahun

Ditulis oleh Jajang R Kawentar

Seni Preeet terbuka umum, memiliki agenda Pameran New Message Space (Ruang Pesan Baru) Pameran ini digelar Bangunjiwo ArtDome (Rumah Teletubbies) Cikalan, Rt. 02 DK. II, Ngentak, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul Yogyakarta, Minggu, 27 Desember 2020 – 27 januari 2021. Pameran ini bersamaan dengan pameran penggalangan dana untuk seniman disabilitas disfungsi dua kaki, Edy Priyanto, korban tabrakan yang mengalami patah tulang bahu kanannya,  luka di kepala dan pan di kaki lepas.

Menampilkan 15 perupa dari latar belakang pendidikan dan budaya berbeda, Medan, Jawa Barat, Minang, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, Palembang, yang berproses di Yogyakarta. Diantaranya; Deden FG, Paul Agustian, Riki Antoni, Desmond Zendrato, Baraliar/Chacha Baninu, Dadang Imawan/Dewi a.k.a. DuaDe, Ratih Alsaira, Ipo Hadi, Ahmad Arief Affandi, Agapitus Ronaldo, N. Rinaldy, Dadah Subagja, dan Windi Delta.

Seni Preeet menyajikan Mural, Grafity, Colagge, Instalasi, performance art.  Karya seni yang tidak diseriusi tapi berpikir serius. Seperti bermain menciptakan aturan mainnya sendiri. Inti dari pesan Seni Preeet tetap konsisten saja. Pesannya bersifat mengingatkan yang ditujukan untuk diri sendiri. Meskipun sesungguhnya sebuah pesan itu juga berlaku umum. Seperti undang-undang Preeet berkata: “Kita tidak pikir apa yang orang pikir, kita berpikir apa yang kita masalahkan.”

Anggap saja Seni Preeet anak-anak yang selalu rindu mencintai sukacita, dan kasih sayang. Meskipun yang terlibat dalam pameran ini semua pemuda paruhbaya (dewasa), bukan anak-anak. Jangan sampai kita merasa paling baik dan paling benar sehingga merendahkan sesamanya, bahkan menghabisinya. Belajar hidup tidak menyimpan rasa dendam, tidak merugikan orang, marah biasa, bertengkar sebentar setelah itu akur lagi. Hidup sementara, seni itu umurnya panjang. Tidak perlu terlalu ngotot dalam berkesenian, cukup ngotot dalam berkarya.

Karya-karya yang terdisplay seperti harapan senimannya, memilih tempat dan mengaturnya sendiri, hingga karya itu menempatkan bunyi pesan pada ruang. Ruang pesan baru melekat pada karya, letak karya, pertunjukkan dramatikal senimannya, diungkapkan melalui tulisan dan secara verbal.

Andai hal ini bagian dari kebebasan, demokrasi, atau toleransi; dengan cara seniman diberikan hak penuh mengatur penempatan, memasang karya sendiri, kemudian meresponnya. Sehingga tidak lagi membutuhkan ahli display atau mengatur kelayakan menurut aturan standar display. Mungkin ini tragedy mengurangi karakter sistem kerja kurasi.

 

 

Ketika perupa berkhayal mewujud ke dalam karya seni, disitu ada ruang pesan baru, ada pesan baru ruang. Ada pesan baru dalam sebuah ruang, ada ruang apa dalam pesan baru? Ada jejak yang baru tertinggal atau sengaja ditinggal disebuah ruang. Meskipun kini pesan-pesan baru itu berhamburan dan berulang-ulang, bahkan berulang pesan yang sama, pesan seperti baru. Pada kenyataannya mungkin pesan itu tidak ada, namun seperti nyata. Pesan baru itu dibuat seperti nyata, meskipun faktanya tidak ada. Adapun demikian faktanya nyata, pesan baru mengubahnya menjadi ilusi, disamarkan atau malah ditutupi dan dihilangkan.

Apa yang bisa ditangkap dari sebuah pesan baru, apa yang bisa diungkap dari pesan baru? Tentunya pesan baru itu seperti juga segala sesuatu yang dihadapi dialami dalam menjalani kehidupan. Berbagai macam persoalan saat ini, pengalaman dan pengetahuan baru, yang didedikasikan kepada bahasa seni.

 

Tembi, 22 Desember 2020

Kurapreeet